For My beloved Dedel




 Aku menyebutnya dedel, sebutan sayang untuk adik pertamaku. Vivi Arfiah. Dia memang cenderung terlihat sangat tomboy. Sangat aktif organisasi sampai sakit dan perlu perawatan yang lama. Saya masih sangat ingat. Saat itu ummi harus keluar kota pun bapak. Mereka memiliki agenda dikota yang berbeda dengan agenda yang tak dapat ditinggalkan. Devivi tengah sakit. Sudah 3 dokter yang ummi dan bapak temui untuk memastikan penyakitnya.
 Dokter pertama menganjurkan untuk segera oprasi beliau mengatakan ini adalah tumor. Dokter kedua mengatakan bahwa devivi mengalami penyakit flu tulang.Dokter yang satu lagi menyatakan gangguan ginjal. Ah ummi sampai menangis menelfon nenek untuk dapat menemani devivi dan adik-adik saat ummi harus keluar kota. saking hawatir dengan keadaan devivi saat itu. Ditambah dengan aktivitas kuliah serta ngajar juga mengurus adik-adik yang lain. Aku yang saat itu tengah UAS sangat ingin pulang. Ingin sekali membantu ummi. Juga memberi semangat devivi yang kala itu bahkan pernah menulis status yang seolah tak lagi memiliki semangat hidup. Akhirnya saya pulang. Sempat menemani dan membekam devivi. Alhamdulillah membaik. Sejak saat itu meskipun masih rutin cek pada dokter. Saya membelikan obat herbal dan bekam yang rutin. Dan alhamdulillah sampai saat ini sehat dan bahkan sudah terlihat aga gemuk. Memang sepertinya itu semua berawal dari maag yang selalu tak dirasa. Dasar dedel.



 Saat tengah riweh devivi sakit. Saya sempat meninggalkan amanah dikampus kala itu. Input RNA  yang harus segera selesai saya tinggalkan karena staf saya memaksa saya untuk segera pulang. Ahirnya saya pulang, dan saya ditugasi mengantar Ifa, adik bungsu yang akan mengikuti tes masuk pondok dikarawang. Ahirnya ke bandung-purwakarta dan karawang. Tadinya hendak menginap d teh resty. Namun ternyata lebih dekat dari rumah saudara saya dipurwakarta. Karena sedang hanya ada umi enong dan teteh sedangkan amang-amang sedang pada sibuk dengan rumah yang berbeda. Kami_saya dan ifa_ memutuskan untuk memakai angkot menuju SMP alqur’an  eltahfidh karawang. Ternyata memang sangat dekat.





Kala itu saya ditanya mengapa gak sama ummi sama bapaknya?saya telfon bapak yang sedang diluar kota. Dan rasanya memang sedih. Saya selalu beristigfar saat terfikir untuk menjadi seorang laki-laki.Kufur nikmat sekalih. Karena merasa sedih belum dapat menjaga adik-adik dengan baik. Amanah sedikit terbengkalai. Juga seminar populasi khusus yang tidak dapat ditinggalkan karena salah satu syarat UAS.
Devivi drop saat ia harus lelah lelahnya tes smptn dengan 3 kali gagal.PMDK,UM, juga tes SMPTN.
Ditengah kekalutan itu, saya hanya dapat memberikan informasi, mencari cannel teman-teman diuniversitas lain, mencari alternatif lain pun jika tidak dapat kuliah tahun itu. juga tetap memberi semangat untuk dede. Sambil menahan sakit ia dan kedua temannya tes.telah saya titip pada salah satu teman yang sampai saat ini sudah sangat dekat seperti saudara. Hingga akhirnya devivi masuk pada universitas swasta dengan pertimbangan jurusan yang akan diambil.akhirnya kesehatan masyarakat dipilih. Dengan biaya masuk yang tidak terlalu besar karena nilai devivi bagus sehingga masuk tanpa tes. Namun karena jurusan kesehatan. Ternyata biaya semesterannya cukup besar. Seharga semester pascasarjana upi. Bahkan lebih..

Saya selalu mengingatkan untuk tetap fokus kuliah. Jangan terlalu terforsir dengan organisasi. Bahkan saya sering mengingatkan. “dede kan jurusan kesehatan, hawatir lama atau bagaimana. Kalau dede mau nikah duluan gak apa-apa. Ujarku.
Dia hanya tertawa.
“apa-apaan sih. Masih kecil juga.” Ia masih kecil tapi nanti kalau dede semester akhir udah mau nikah bilang aja yah. Dia hanya tersipu.
“teteh dulu aja hih. Ujarnya. Bocaaaaaaah. Ahirnya perang bantal dan saling jembel pun terjadi.heu
Namun tetap saja hal itu tak membuatnya urung untuk tetap menghadapi padatnya jadwal aktivitasnya. Devivi aku menyebutnya_ dia terkesan sangat tegas. Bahkan pendekatan saya dan dia saat berusaha membujuk atau mengintruksikan adik-adik yang lain untuk shalat jama’ah, shalat tepat waktu, atapun melaksanakan pembagian tugas rumah sangat berbeda dengan saya.
Dedel paling sering ribuk dengan nanil.haha
Meskipun begitu kami saling melengkapi satu sama lain, paling mengesankan saat kami menelfon ummi bersama ditempat yang berbeda.
Pun saat ia telah diterima di universitas itu, saya dengan cepat mencari lingkungan yang nyaman untuknya. Dan alhamdulillah mendapat lingkungan yang baik. Ah dedel. Hafalanmu sudah sangat banyak. Semangatmu dalam menjalankan amanah sungguh luar biasa.
Tetaplah menjadi dedel teteh yang luar biasa shalihahya nay...:’)

Bandung, 18 Februari dengan penuh kebanggaan padamu...:)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "For My beloved Dedel"

Post a Comment

Copyright 2009 Pelangi Rizqi
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates