Cintanya Cinta...
Pagi
masih berkabut. Hampir semua orang yang disentuhnya menggigil menarik selimut
kembali untuk dieratkan. Mengkerat. Dan berusaha menghangatkan diri. Tidak
dengan rumah itu. Samar-samar sinar lampu minyak yang digantungkan diatas salah
satu tiang penyangga. yang kemudian menerangi seluruhnya. Meskipun tak seperti
listrik. Yang lima watt saja tidak sampai seterang itu. Namun apa yang mereka
tengah lakukan mampu melebihi terangnya lampu neon yang berjuta harganya.
Jam empat subuh. Seusai shalat jama’ah
tadi. Emak dan Hasan bersegera membuat Gula Aren. Karena ini adalah hari
jum’at. Emak tidak mau ke hutan. Bukan karena hari keramat. Namun karena hari
ini adalah hari penuh keberkahan. Emak tak ingin melewatkannya dengan sia-sia.
Emak biasanya hanya melakukan aktivitas yang tak sesibuk seperti biasanya. Ia
lebih memilih untuk duduk dengan khusuk diatas sejadah yang lusuh diatas amben
yang selalu berderit keras ketika Emak bergerak. Namun semua itu tak mengganggu
kekhusuan Emak untuk melakukan ibadahnya.
“Mak tak bosan duduk disana berjam-jam?”.
Hasan yang beru berumur 8 tahun bertanya dengan penuh perhatian.
Emak memandangnya lembut. Jemarinya
mengusap anak rambut yang bertengger di dahi Hasan,
“Hasan kalau sudah besar pengen ziarah ke makam Rosulullah bukan? Hasan
mengangguk dengan cepat. Matanya mengerjap dengan awas. Berbinar meningkahi
tatapan Emaknya yang menatapnya lembut.
“Pahala shalat dan baca Qur’an sampai
waktu shalat duha itu, sama dengan naik Haji.” Emak berujar lembut.
“Wah....hasan mau Mak..” ia berkata
dengan penuh kesungguhan.
“Bisa, Hasan pasti bisa.” Emak tersenyum
indaaah sekali. Meskipun terlihat sangat tua . Karena Emak terbiasa dengan
beban yang dihadapinya. Gurat usianya tak setuju dengan apa yang Emak rasakan
semasa hidupnya.
Hasan dulu memiliki kakak yang berbeda tiga
tahun diatasnya. Namun karena sakit malari Maryam meninggal dalam keadaan sakit.
Dan sayangnya Emak dan bapak waktu itu tidak memiliki uang cukup untuk membeli
parasatamol sekalipun. Maka Maryam pun meninggal dalam pangkuan Emak yang
menangis histeris melihat anak pertamanya menghembuskan nafas terakhir dengan
keadaaan yang memilukan. Seminggu lamanya. Emak tercenung. Diatas tugu itu. Ia
telah memvonis dirinya sebagai seorang ibu yang tak berguna. Yang tak mampu
memberikan obat saat anaknya kesakitan. Tak mampu memberikan hal yang terbaik
semasa anaknya masih hidup. Dan bapak tentu tak henti-hentinya mengingatkan Emak
untuk tetap bersyukur. Ah bapak, tegarmu memang tak terbendung luasnya.
Meskipun bapak dengan susah payah
menggadaikan kapak yang selama ini menjadi alat untuk mencari nafkahnya itu.
Namun kepala desa menganggap kapak itu terlalu tua untuk dipakai bahkan untuk
disimpan sekalipun. Dan Maryam pun meninggal dengan senyum. Karena bahagia, Emak
dan bapaknya dengan tegar
mengikhlaskannya untuk pergi lebih dulu.
Hasan mengikuti kebiasaan Emaknya dengan
semangat. Ia meniru apa yang telah selama ini Emaknya lakukan. Sebelum shalat
subuh. Ia persiapkan buku-buku dan PR yang akan ia kerjakan. Ia merapikannya diatas
sajadah kecilnya. Diujung sebelah kanannya. Ia simpan dengan rapih. Buku kumal
yang sudah berkali-kali kehujanan. Namun ia mengangap buku kumal itu amat
berharga. Karena ia dapat belajar, dan mengerjakan PR dengan buku itu. Ia pun
dengan sigap menyimpan juz amma. Yang berhasil ia beli dari tabungannya selama
tiga bulan terakhir. Setelah ia dan teman-temannya ikut mencari kayu bakar di
hutan. Dan dijual di pasar yang tidak jauh dari kampung. Lumayan untuk jajan
dan menabung sedikit demi sedikit. Hasan sudah terbiasa tidak jajan di sekolah.
Ia lebih memilih menyimpannya dikaleng yang ia jadikan celengan. Setelah
sebalumnya ia mengisi perutnya dengan penganan yang Emak buat di rumah. Meskipun
hanya sepotong ubi rebus yang dibaluri parutan kelapa dan ditaburi garam yang
menggiurkan. Ditemangi secangkir teh hangat yang mengepul dengan indah.
“Sudah siap semuanya?”. Emak membuyarkan
lamunan Hasan.
“Sudah.” Hasan dengan sigap berdiri untuk
pergi ke surau yang cukup jauh dari rumahnya. Ia tak pernah mengeluh dingin
atau pura-pura sakit untuk tak pergi ke surau.
Ia selalu ingat akan pesan Ayahnya
sebelum meninggal.
“Rosulullah tak pernah meninggalkan
shalat berjama’ah di masjid. Hanya sekali seumur hidupnya itupun ketika beliau
sakit sebelum meninggal.”
“Bapakmu akan bangga padamu nak, jika
shalatmu, baca qur’an mu, belajarmu, dan baktimu pada Emak kau lakukan.” Itulah
kata-kata Emak yang selalu menyemangatinya.
Dan langkahnya pun semakin cepat. Sambil
mengerahkan tenaganya utuk menahan gemeretuk gigi yang tak mampu dibendung.
Menyambut subuh yang penuh berkah.
***
Anak kecil dengan penuh semangat dan
memiliki keingintahuan yang tinggi itu bertanya pada Emaknya.
“Mak, Tuhan tidak pernah tidur kan?”
ucapnya. Sembari membantu Emaknya
menuangkan gula aren pada cetakan. Seketika Emak menghentikan aktivitasnya. Ia
memandang anaknya yang lugu.
memandangnya dengan keingintahuan dan harapan yang besar.
“Kalau Hasan kan susah tidur mak. “
ujarnya. Memecah kesunyian. Ia kembali sibuk menuangkan adonan gula yang sempat
terhenti beberapa saat.
Emak hanya memandangnya dengan lembut.
mencari binar-binar cinta dimata anak semata wayangnya.
“Hasan suka susah tidur mak. Sebenarnya...
Hasan suka masih lapar kalau mau tidur.”
Ucapnya polos. Ia tak sadar. Bahwa apa
yang dikatakannya barusan seperti halilintar disiang bolong yang menyambar
gendang telinga Emak.
“Seharian Hasan membantu Emak membuat
gula, menjemur, dan menjualnya dipasar. Hasan juga ikut mencari kayu bakar di hutan dengan teman-teman untuk
tambahan jajan. Tapi masih saja belum cukup. ...”
Emak masih saja diam...
“Sepatu hasan kemarin robek.” Ucapnya.
Lirih. Ia tak berani menatap Emaknya yang dengan sabar menunggu pandangan anak
terbaiknya.
Ia tak berani menatap Emaknya yang baik
itu. ia tahu, saat yang paling nyaman untuk saling mencurahkan apa yang tengah
dirasakan adalah saat ini. Saat dimana Emak ada dirumah dan mencetak gula aren.
Setelah seharian Emak ke hutan. Mencari air Aren yang perlu dengan sudah payah
mencapainya. Dan karena itu pulan pak Rofi, ayah Hasan, meninggal dunia saat
kemalaman keluar dari hutan. Hingga ada segerombolan perampok yang mengambil seluruh
barang-barang yang pak Rofi dapat dengan susah payah. Lantas pak Rofi pun tak
sudi memberikannya pada perampok itu. perkelahianpun terjadi. Lima lawan satu.
Bapak kewalahan dan akhirnya dibiarkan begitu saja dengan sekujur tubuh penuh
luka. Hingga keesokan harinya, ada salah satu
tetangga yang tergopoh-gopoh sambil menanggis mengagetkan rumah kecil
itu.
Emak merapihkan semua peralatan dan
menghentikan menuangkan gula.
“Kan belum selesai Mak?” Hasan merasa
bersalah pada Emak. Takut-takut ia menatap wajah orang yang dikasihinya itu.
Tak ada yang berubah. Wajah itu.
tetap tegas dan menentramkan..
Setelah semuanya rapih. Emak mengajak
hasan keluar rumah. Sebenarnya. Tak pantas gubuk itu disebut rumah. Karena
disana sini banyak yang bolong. Dan Emak berusaha menutupinya dengan membiarkan
dedaunan yang hidup disekitarnya. Dengan hanya terdapat dua kamar. Yang dipisah
oleh balutan kayu dan dapur sederhana. Beralaskan tanah
Didepan rumah ada sejenis tunggul bekal
pohon bersar yang digergaji. Emak menyiasatinya menjadi tempat duduk.
“Sini, duduk Nak. Emak tersenyum sambil
menepuk tunggul yang dibersihkannya perlahan.
Hasan takut-takut mendekati Emaknya yang
bersikap tak seperti biasa.
“Emak marah sama Hasan?” Hasan mencoba
memecah kesunyian.
Sudah lima menit berlalu. Sedari tadi
hanya hening yang menyapa.
Emak menatap hasan. Lembut.
“Tentu tidak sayang...” Emak mengusap rambut Hasan dengan penuh kasih
sayang.
“Emak malu ya punya anak kaya Hasan?” Hasan
berkata deng ujung matanya yang basah.
“Malu kenapa? Emak justru bangga padamu
nak.” Emak menatap sendu wajah putranya.
“Emak bangga punya anak seperti Hasan.
...ujarnya. nanar. Luka itu masih ada. Selalu. Ketika ia duduk diatas tunggul
yang membisu.
Mengingatkannya akan luka tu. Luka tak
mampu memberikan yang terbaik untk anak yang dicintainya.
Ah Emak,...sabarmu mampu menggurkan
dosamu.
“Hasan mau jadi dokter Mak. Biar kalau Emak
sakit. Hasan bisa obatin Emak. Biar ga kayak teh Maryam. “ Hasan berkata sambil
menerawang
Emak mengangguk kuat-kuat dengan tangis
yang tak mampu dibendungnya
“Hasan sekarang udah besar. Hasan harus
lebih pintar dari Emak dan abah. Biar bisa manfaat buat orang lain.” Emak
berkata sambil terisak.
Hasan hanya mendengarkan dengan diam
Jauh dari dasar hatinya ia ingin
berteriak. Ingin menenangkan Emak. Namun diujung lidah semuanya tertahan
“Mulai sekarang. Hasan mau lebih giat
lagi belajar Mak. Gak akan ngeluh lagi mak. Hasan janji...” Hasan tersedu.
Bahunya berguncang dengan pilu.
“Hasan juga bakalan hafalin qur’an mak.
Walaupun Hasan baru hafal juzamma. Hasan pengen nanti beli qur’an sendiri. Biar
bisa ngafal dimana aja . biar ga ganggu emak baca qur’an.” Emak kuat-kuat
memeluk anak satu-satunya itu.
“Ammmiiin....”
kelu. Hanya hati-hati mereka bertaut.
Do’a- do’a menyeruak dari rerumputan, makhluk bumi dan langit berhamburan mengamini
dengan khusuk. Seorang anak yatim yang dengan sabar mensyukuri nikmat yang
dimilikinya...disaksikan tugu yang tak lagi sendu.
#Teruntuk ummi dan bapak, yang tak pernah
lelah memberi kasih sayang dan cinta yang tak pernah padam untuk belajar
mencintai-Nya.







0 Response to "Cintanya Cinta..."
Post a Comment