Bullying Terhadap Anak, Siapa yang harus disalahkan?
Malam ini saya terperanjat dengan suguhan acara dari salah satu stasiun televisi swasta yang menayangkan sebuah “episode baru” yang dilakukan oleh siswi berprestasi. Dengan keadaan yang terdesak, karena diancam, dan alasan lain sehingga mempertaruhkan masa depan, kehormatan dan kemampuan menjaga diri. Bullying menjadi hal yang harus mendapat perhatian.
Memang
banyak hal yang mendasarinya. Orangtua, lingkungan sekitar, teman sebaya, dan
apa yang siswa “konsumsi” dalam kesehariannya. Acara ditelevisi, majalah yang
dibaca, facebook, WA, LINE, youtube, dan berbagai bentuk sumber infomasi lain
yang semakin memicu keingintahuan siswa akan hal yang belum ia ketahui. jenis bullying baru ini memicu adrenalin
keingintahuan saya. Mungkin salah satu sebabnya karena tugas akhir saya memang
membahas salah satunya tentang ini. Bullying.
Tapi lebih dari itu. “bencana” ini harusnya menjadi sarana refleksi bersama
berbagai pihak. Agar anak-anak, remaja dan para orangtua dewasa saling membantu
untuk dapat memberikan informasi yang benar, tauladan yang baik serta saling
membantu dalam setiap tahapan perkembangannya.
Menurut
hemat saya, sedikitnya ada beberapa hal yang mungkin sedikit menjadi saran
untuk setidaknya meminimalisir akar dari “bencana moral ini. Dalam tulisan ini saya
akan membahasa dua hal saja. Karena sebenarnya sangat banyak jika dijabarkan.
Pertama,
Keberadaan konselor pada setiap sekolah
Menjadi
hal yang lumrah jika saat ini masih mendapati sekolah yang belum memiliki guru
Bimbingan dan Konseling. Padahal mungkin sekolah tersebut memiliki siswa yang
cukup banyak dengan segala “keunikannya”. Banyak hal memang yang mendasarinya. Mungkin salah satunya juga kurikulum yang
kurang memfasilitasi keberadaan jam Bimbingan dan Konseling. Hal ini patut
diperhitungkan. Betapa tidak. Hal sepele seperti tak memiliki teman, atau
kurangnya perhatian guru dapat memicu berkurangnya motivasi belajar siswa dan
mungkin akan berimbas pada prestasi belajar siswa. under achiever (pintar tapi tak berprestasi), prokrastinator (menunda-nunda
pekerjaan, terutama belajar, cenderung malas), dan membolos mungkin menjadi
pilihan.
Negara
menjamin keamanan, keselamatan dan pendidikan. Keberadaan Konselor pada setiap
sekolah haruslah menjadi perhatian. Minimal setiap SMP dan SMA harus memiliki
seorang konselor. Akan lebih baik jika jumlah konselor disesuaikan dengan
banyaknya siswa, 150 siswa dipegang oleh satu konselor. Dan jauh lebih baik
lagi tidak hanya SMP dan SMA tapi juga
adanya peraturan mengenai wajib adanya konselor pada tingkat Taman Kanak-Kanak
dan Sekolah Dasar.
Konselor menjadi penengah, dan merupakan
salah satu langkah preventif yang dapat
dilakukan sejak awal masuk sekolah, ketika sekolah dan fase berahirnya sekolah.
Bagaimana konselor juga dapat menjadi penghubung antara orangtua, siswa dan
guru mata pelajaran. Harmonisasi teman sebaya siswa serta apa saja yang
dibutuhkan siswa. Mengarahkan bagaimana kecenderungan karir dan aktualisasti
bakat serta minat siswa. Tak penting memang perseteruan yang mungkin dianggap
tak penting oleh orang dewasa. Tapi bagi anak usia sekolah, hal itu sangat
berarti. Karena aspek smosi, dan proses mencari tahu menjadi tak terbendung.
Cenderung ingin menang sendiri. Ingin didengarkan, dan lain-lain. Hal ini
harusnya menjadi alasan orangtua, dan orang dewasa untuk dapat mengerti
bagaimana tugas perkembangan anak yang harus mereka tunaikan.
Kedua,
Kekuatan Media
Pernah
lihat bagaimana artis pelaku tidak senonoh yang sampai sekarang bahkan masih
dielu-elukan sebagai artis dan jadi idola?
Sebentar,..narik
nafas berat.
Dapatkah
kita bayangkan bagaimana mereka menjadi idola bagi adik, kakak, atau orang
terdekat kita?bagaimana pandangan mereka terbentuk bahwa orang melakukan
seperti itupun ternyata TIDAK APA-APA tetap BANYAK PEKERJAAN dan DIPUJA BANYAK
ORANG.
Kadang
saya berfikir. Gak ada artis lain yah? Bukan. Saya bukan mau menjatuhkan orang
tersebut. Bukan juga iri dengan orang tersebut. Tapi bagaimana dampak sugesti
yang ditampilkan bagi masyarakat begitu hebat sehingga kalau kata Hanum
salsabiela rais. “yang ga baik ketika terus menerus dikatakan baik. Padahal
udah jelas ga baik. Karena semua media, semua orang menyatakan itu baik. Maka
ITU BAIK. Tau kah dalam otak kita banyak neuron yang menyerap informasi
kemudian hati mengamini dan pasti juga dengan sugesti kita tentunya.
Banyak
ko contohnya. Makan d KFC itu wahh padahal sama saja dengan makanan lokal yang
bahkan lebih enak. Orang cenderung gengsi dengan label high class yang menjanjikan kepopulerannya.
Itulah
mengapa tauladan itu adalah senjata yang amat ampuh. Saya selalu ingat ketika
dirumah. Sebelum bapak menyuruh anaknya yang semuanya perempuan untuk melakukan
pekerjaan rumah seperti menyapu Atau mengepel. Beliau selalu lebih dahulu
mencontohkan. Sehingga kami malu jika tidak lebih rajin dari seorang ayah yang
sangat super sibuk menyempatkan untuk menyiram tanaman dan ikut membantu
menyapu halaman. Intinya adalah, perkataan apapun jika tidak disertai teladan
itu NOL.
Dalam
hal ini pemerintah patut melindungin keamanan warganya dengan menjaga dari
video, gambar atau apapun yang dapat merusak moral bangsa, dan lebih daripada
itu. Orangtua alias keluarga harusnya menjadi tempat ternyaman untuk bercerita,
berbagi ilmu dan tempat terlindung dari anak. Sekolah menjadi tempat ternyaman
untuk belajar dan masyarakat menjadi tempat ternyaman sebagai sarana pendidikan
terbaik. Mendidik bagaimana mengajarkan bahwa ini baik dan itu tidak baik.
Pada
dasarnya...
“Setiap anak
dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua oragtuanyalah yang membuatnya yahudi atau
nasrani, atau majusi (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh)
.............................................
“Setiap anak
terlahir membawa pesan bahwa tuhan masih mempercayai manusia”
(Rabindranath
Tahore)
Jadi,
semoga kita dapat menjadi kakak, adik, ayah, ibu, guru, tetangga, teman dan
peran lain yang dapat membantu anak-anak dan orang disekitar kkita manjadi
genarasi rabbani. Generasi yang dinanti. Yang akan selalu siap dengan berbagai
keadaan dengan keshalihan dan kecerdasan mereka serta kebermanfaatannya untuk
orang-orang disekitarnya.
Kita buktikan rasa
syukur kita dengan menjaga anak-anak sebagai amanah dan investasi akhirat
terbaik.^^
31-10-13
22:00

.jpg)






0 Response to "Bullying Terhadap Anak, Siapa yang harus disalahkan?"
Post a Comment