Negeri yang Menghilang
Dapatkah
kau bayangkan bagaimana tempat tinggalmu, tanah air yang amat kau cintai
dirampas oleh sekelompok orang yang tiba-tiba mengakuinya tanpa alasan yang
jelas.
Jika dicontohkan,
Ada orang yang ingin merebut rumah dan tanah tempat tinggalmu. Tanpa alasan.
Tak peduli kamu memiliki surat kepemilikan yang resmi atau tidak. Dzalim bukan?
Bukankah azab Allah
lebih pedih untuk yang mengambil hak orang lain? Nauzubillah
Dulu, sebelum
penghujung tahun tujuh puluhan, Ramallah sekelilingnya bukit. Taman luas yang
luas dan subur dengan sebuah rumah didekat setiap mata air. Pohon-pohon zaitun
tumbuh berbaris dilereng-lereng dan tanaman anggur menjalar menutupi dinding
teras-teras. Perbukitan itu seolah telah menjadi suaka alam yang luas dengan
mata air dan kolam-kolam kecil dimana katak meloncat-loncat tanpa terganggu.
Dan rusa ke atas dan dan kebawah teras, dan kita dapat berjalan diatas sana
tanpa halangan.
Sungguh beruntung orang-orang
yang dulu tinggal di surga sejati ini. Dan betapa kelirunya Herman Melville yang
menggambarkan daerah ini gersang ketika ia mengunjunginya dipertengahan abad
sembilan belas.
_Embun putih
menyeruak diseluruh pemandangan_bagai kulit berkusta berpemutih bagi bebatuan
yang tua-bangka dan lunak_teremas, terkunyah, dan terkulum_hanyalah buangan dan
limbah ciptaan_seperti apa-apa yang juga terletak di luar gerbang Jaffa_seluruh
Judea sepertinya adalah kumpulan limbah ini.
(Journal of a Visit to Europe and the Levant:
Ocober, 1850-May 6,1857-Jurnal kunjungan ke Eropa dan Levant, bagian timur mediterania:
11 Oktober 1856-6 Mei 1857)
Saya tidak mau
menghabiskan banyak waktu untuk membahas tulisan para pengembara barat yang
menjelek-jelekkan negeri yang tak ternilai ini. Sebaliknya saya hanya akan
sedikit menggambarkan bagaimana keadaan palestina yang sesungguhnya saat ini.
Dalam hukum Israel,
Fareed dan anggota keluarganya yang tidak tinggal ditepi barat ketika
pendudukan Israel juni 1967 dan saat dijalankannya sensus pertama yang
benar-benar penting, dianggap tak hadir sehingga kepemilikan keluarganya
dirampas oleh mereka. Kemudian diambil alih oleh negara Israel untuk digunakan
hanya oleh orang Yahudi Israel.
“seorang Palestina
hanya punya hak atas harta benda yang didiaminya. Begitu dia meninggalkannya
dengan alasan apapun ia akan kehilangan hak milik, harta benda itu akan
“kembali” kepada mereka yang dianggap oleh sistem israel sebagai pemilik yang
asli dan sah atas “Judea dan Samaria” yaitu orang-orang Yahudi, dimanapun
mereka mungkin berada.”
Penelantaran
hak milik, yang berawal dari tekanan ekonomi telah melahirkan implikasi hukum
dan politis dengan konsekuensi mengerikan.
Jadi,
saya mulai faham mengapa mereka begitu bersikeras dengan keteguhannya untuk
tetap tinggal. Membela tanah air dan mempertahankan hak mereka. Bukankah kita
harus mempertahankan hak kita? Bukankah kita bahkan harus melawan siapapun yang
dengan semena-mena mengambil hak kita?
ketika bersikukuh untuk tetap tinggal dan mempertahankan kehormatan agama, negara dan diri sendiri. Maka mereka akan dengan semangat membasmi. Semakin diberangus habis penduduk palestina. Maka mereka akan semakin mudah membangun “peradaban baru” disana.
ketika bersikukuh untuk tetap tinggal dan mempertahankan kehormatan agama, negara dan diri sendiri. Maka mereka akan dengan semangat membasmi. Semakin diberangus habis penduduk palestina. Maka mereka akan semakin mudah membangun “peradaban baru” disana.
Bayangkan
ketika kita tengah membutuhkan pertolongan untuk menjaga kehormatan diri, agama
dan negara yang tercabik-cabik
sehina-hinanya dan semua orang tergugu. Bungkan seribu bahasa. Tak ada yang
menolong. Kita lebih tau bagaimana pedihnya didzolimi..
Dan hatimu lebih tau
jawabannya kan?yah,...semoga...sigh
Gunung-gunung
gersang, dengan pohon zaitun kelabu gelap menggeligis disana-sini;
jurang-jurang ganas dan lembah-lembah dengan saf-saf batu nisan-kemanapun kau
berkelana disekitar kota kau akan menemui sebuah pemandangan yang terlatar dan
seram tak terkatakan. Tempat ini sepertinya sudah lumayan terbiasa dengan
berbagai kejadian yang terekam dalam sejarah yahudi. Nampaknya bagiku, tempat
ini dan segala kejadian itu, tak dapat dilihat tanpa rasa tercekam. Ketakutan
dan darah, kejahatan dan hukuman, bersambungan dari halaman kehalaman secara
mengerikan. Disini tak ada sejengkalpun tempat dimana belum pernah terjadi
ekkerasan : sebuah pembantaian terjadi disini, seseorang dibunuh disana, disini
berhala dipuja dengan ritual yang menyeramkan dan berdarah-darah
(dari notes of a
journey from Cornhill to Grand Cairo)
_Catatan Perjalanan
dari Cornhill ke Grand Cairo
Usai muhasabah akhir
tahun beberapa hari lalu begitu membekas dalam benak sama. Betapa rasa “peduli”
sudah tak mengakar lagi.
Entahlah, sayapun
mungkin begitu.
Sejak kecil saya
seringkali membaca cerita bagaimana tragedi kemanusiaan bosnia, sangat ingat
bagaimana pertamakali mengenal cerita palestina dari kumpulan cerpen Asma nadia
dkk. “Merah dijenin”. Dan berbagai informasi mengenai indahnya persaudaraan
muslim dari majalah sabili yang tergeletak di rumah, dan selalu saya baca.he
Mengenal
bagaimana Mer-C yang dengan gagahnya menjadi perantara Indonesia Palestina,
bagaimana Mer-C juga terbentuk dari kumpulan relawan dokter yang sejak
mahasiswa mereka menjadi pencetus dan relawan pada konflik poso, ambon, Aceh,
dan betapa perjuangan mereka tak mengenal rasa takut. Dengan keterbatasan biaya
dan bahaya yang setiap detik dapat mengancam keselamatan mereka.
Dan
empati ini sepertinya belum dapat menandingi apa yang telah mereka lakukan.
Meskipun begitu, semoga doa dan harap ini menjadi penguat persaudaraan dan
jalan cinta yang Allah berikan.
Kini,
waktu subuh semakin awal Mungkin itupulalah yang akan menjadi alasan kita untuk
dapat menyiapkan bekal keimanan, kesabaran dan apa yang kita ikhtiarkan untuk
setiap harinya. Menghadapi hari yang akan dipertanggungjawabkan kelak.
Selamat mentadaburi
hari baru, tahun baru, dan semangat baru memperbaiki semuanya. Memperbaiki
niat, terget dan diri yang pastinya selalu banyak salah dan khilaf. Saya
katakan...HARAPAN ITU MASIH ADA...!!!
Meski
belum ada apa-apanya dibandingkan mereka yang telah merasakan bagaimana
indahnya sebuah perjuangan. Tak pernah berhenti. Membungkus harap. Melangitkan
do’a agar kelak dapat membersamai orang yang disayangi di jannah-Nya...aamiin.:’)
Teringat
percakapan dengan salah seorang sahabat kemarin, Ya Allah, semoga kami,
anak-anak kami, kelak ataupun kini menjadi bagian dari orang-orang yang peduli,
kukuh akhlaknya, dan menjadi solusi untuk ummat. Shalih dan tegar layaknya muhammad
Al-fatih, shalihah, cerdas dan rupawan layaknya Aisyah.
Disarikan dari Buku
“Jalan-jalan di Palestina_Catatan atas Negeri yang menghilang_
karya : Raja
Syehadeh (Pemenang Orwell Prize 2008)








0 Response to "Negeri yang Menghilang"
Post a Comment