Mahkota Cahaya
Berbaju
hina
Berjubah
kebanggaan
Manakah
aku?
Tak
pernah tahu...
Menggigil
menunggu waktu
Sibuk
dengan keringat menyala-nyala teriknya
Sejuk
dengan segala keindahannya
Manakah
aku?
Tak
pernah tahu...
Menunggu
neraca mizan
Menanti
jumlahan hisab tak terbantahkan
Amal
kebaikan dan harapan..
Membebat
penyesalan, duka, dan keputusasaan
Menunggu
sirat yang Maha menentukan
Menunggu
gerbang kebahagiaan ataukah ratapan kekal
Tiba....
Sungguh
saat itu tiba...
Barisan
wajah bercahaya itu tiba...
Membuka
gerbang kebahagiaan...
70
ribu...
Rosulullah
mengawali...
Lelaki
yang hatinya bersih nan suci
Sahabat
Rosul, tabi’in. Pemimpin adil, Syahid, penghafal alqur’an, menjadi barisan
utama
Mari,
kemari...Ku sematkan Mahkota ini...
Mari,...Kuperlihatkan
wajah-Ku...
Agar
kalian bersyukur..
Uforia
bahagia ataukah nelangsa?
Aku
tak tahu..
Kusematkan
mahkota ini pada orangtua yang anaknya bercahaya...
Iman
dan akalnya..
Hati
dan perilakunya..
lisan
dan doanya
dalam
lirih dan diamnya..
selalu
terhimpun padaKu...
kebanggaan...
Sinarnya
menerangi seluruh alam
Ah
sungguh aku mau...
Aku
menyesal...
Air
mata menggerimis
Tampak
kemarahan pada gigi yang beradu
Ah
sungguh aku beruntung menyematkan pada kedua orangtuaku..
Manakah?
Akupun
tak tahu..
Biar
lauh mahfuz mencatat...
Bahwa
aku menginginkannya
Syurga,
mahkota cahaya, dan kebahagiaan yang hakiki.
Menulis disela nyekrip^^
15-11-13
15-11-13








0 Response to "Mahkota Cahaya"
Post a Comment