Resensi Buku "Berjalan Diatas Cahaya"
Hidup
Dinegara yang maju, telinga kita menjadi terbiasa dengan keheningan. jauh dari
suara-suara bising kendaraan. Mata selalu dimanjakan pemandangan memukau empat
musim. Hati terasa tenteram dengan tingkat kriminalitas rendah. tapi tetap saja
telinga rindu mendengar suara azan. mata yang terbuka, rindu kepala yang
bersujud berjama’ah. hati yang berdo’a, rindu penguatan iman. namun tak
semuanya disetiap lekuk negara maju memiliki bangunan kukuh bernama masjid. Jangan
bertanya bagaimana bahagianya memperjuangkan berdirinya masjid disana.
Hidup Dinegara
Maju. Kesungguhan, tanggung jawab dan hati baja menjadi modal untuk seorang
Ibu, istri sekaligus mahasiswa di salah satu universitas di. yang telah
berhasil menyelesaikan gelar MBA dengan membuktikannya menjadi lulusan terbaik.
Hidup Dinegara
maju, Pedesaan menyuguhkan Lanskap hijau sawah yang membentang luas menikmati
tontonan biri-biri dan sapi saling berdampingan disepanjang jalan Bern-Ipsach.
desa terpencil di swiss yang menyimpan
harta- seorang muslimah Indonesia yang menjadi pegawai disalah satu perusahaan
terbesar jam tangan dunia yang satu-satunya memakai kerudung. dengan semangat
bersama suami tercinta Yah Cut memperjuangkan perkuburan muslim pertama disana.
Hidup Dinegera
Maju, Lanskap kejujuran benar-benar terjaga disini, Slovakia. negara kecil yang
dengan indahnya mengajarkan bagaimana kejujuran menjadi modal utama untuk hidup
berdampingan.
“Dan Allah
menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan, dan Dia
mengampuni kamu, dan Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang. (Alhadid : 28)
Berjalanlah
keseluruh penjuru bumi, renungilah agar Dia mengampuni Mu. agar cahaya-Nya
tetap selalu ada hatimu.
Saking ngefansnya sama buku inih jadi buat resensi sendiri....haha
karya "Hanum Salsabiela Ra'is.
karya "Hanum Salsabiela Ra'is.







0 Response to "Resensi Buku "Berjalan Diatas Cahaya""
Post a Comment