Epilog Syukur



Apakah kau merasa, akhir-akhir ini mentari begitu getas saat tengah menatap kita?
Apakah kau merasa bulan sudah sangat langka menyapu malam dengan sunggingan senyum? Kecuali ditanggal 14,15 dalam hitungan hijriah pada tengah bulannya..
Itupun jika ia mau..
biasanya hanya kudapati usapan halusnya dalam balutan awan yang membentang.
Biasanya bapak selalu mengajak kita duduk bersama diluar rumah. Menikmati tatapan bulan. Menyapa angin malam.
Apakah kau merasa jika ucapan kita begitu “kering” saat mengeja syukur?
Aku bahkan tak merasakan qanaah bersemayam dengan nyaman dalam hatiku saat ini.
Alhamdulillah ‘ala kulli haal...
Engkau telah lengkap membersamai hatiku, hatimu dengan dua hal. Yah dua hal
Syukur dan sabar.
Kau titipkan rasa itu setelah kau hujamkan duka, sesak, dan sapaan dari rasa putus asa. Hingga lengkingan tawa syaithan membahana. Memekakkan telinga.sangat terasa.
Membersamai dalam setiap detik, kiri, kanan, atas bawah, depan belakang.
“Alhamdulillah tatimmu bini’matihi tatimmushaalihat.”
Alhamdulillah dengan segala nikmat-Mu,  dengan kebaikan yang Engkau sempurnakan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Epilog Syukur"

Post a Comment

Copyright 2009 Pelangi Rizqi
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates