Cloudy December
Ruangan fip lantai dua barisan ruangan dosen begitu sepi. Lampu begitu temaram. Biasanya kelas ramai. Entah kenapa tidak untuk hari ini. Aku duduk dilantai tepat disamping pintu ruangan dosen yang masih dikalungi gembok. Termangu. Memainkan pulpen dengan hati tak karuan. Bagaimanakah kedua dosen pembimbingku akan mengampuni “dosaku” yang membuat orang sepenting mereka dibuat menunggu?
Ah terlalu kamu ki.heu
Tapi teman dikostn sangat kasihan
jika ditinggalkan dalam keadaan yang sangat tak tega ditinggalkan.
Dan memang, mungkin inilah
qodarullah, Allah langsung membalasnya.
Hari ini syukur, gemetar dan membiru
menjadi bulan-bulanan keadannku saat ini. Betapa tidak. Saya merasa begitu
bodoh. Yang tertaman dalam otak saya saat ini adalah. Saya takkan bisa sidang.
Tapi hati saya mengatakan kamu akan sidang kiki.
Ketika menengok kearah hentakan kaki
berjalan dari keremangan aku dapat melihat pembimbing pertamaku datang sambil
membawa kunci ruang dosen yang masih tertutup rapat.
“tuh gimana ga beruntung punya
pembimbing sholeh mah ki” pembimbing dua yang muncul berbarengan dari arah yang
berbeda memecah kesunyian.
“Sok ke ruangan pak pembimbing
satu.nanti saya kesana.” Ujar beliau. Sambil menyimpan tas pada mejanya.
“Kamu, pake deskriptif atau inferensial statistikanya?”
saya baru saja duduk. Masih merapihkan rok mencari posisi yang nyaman.
Pembimbing dua masih berada dikursinya. Semenit kemudian bergabung dengan kami.
(red : pembimbing satu dan saya)
Pertanyaan sekak. Saking gempeur dan
pikiran melayang. Menjawab sekenanya. Emm
Deskriptif pak..>padahal
inferensial-_-
Coba pakai deskriptif aja. Ini
pedoman skoringnya coba lihat pak. Ini memangnya ada ya?
Iya...
Kompetensi...
Pokonya ini disatukan.
Ini pakai histogram
Perbandingan
Pembahasan berbagai faktor, aspek dan
hierarkisnya kriteria penyekoran. Tidak usai pakai signifikansi karena pasti
akan sudah sangat terlihat perbandingannya.
Mau nulis tapi bingung. Tak mampu
kutatap keduanya. Mataku fokus pada berkas tebalku. Yang ternyata hanya dilihat
pengkategorian skor dan kesimpulan sajah. Berkas yang segitu tebalnya. All bab,
170 halaman.-_-
Melongo...seperti difilm. Terkesima
melihat pembimbingku berjalan seiringan. Biasanya sering bersebrangan sehingga
membuat saya rada pusing.heu
Dua-duanya tidak menyalahkan. Namun
“wahhh ini ngitungnya terlalu
keren...plak#lima kali ganti cara perhitungan. Saya yakin bapa rada jujur
bilangnya soalnya ngitungnya emang njelimet rda susyeh dan analisisinya harus
spesifik banget.pede banget. Ya iyyalah uda ngolah data segitu njelimetnya uda
berkali-kali ganti pola ngitungnya. Gimana ga kblinger?heu
Dan...
Lagih?
Ah.. tidak ada kata menyerah. Ini
justru jalan Allah untuk memberikan sarana belajar statistik atau ngolah data.
Supaya bisa semuanya. Saking uda banyak dicoba.haha
Mabok.heu
“kamu itu pintar ki, bapak percaya
dalam semalam kamu bisa menyelesaikan semua ini. Inih email bapak. Jika kamu
sudah selesai sebelum hari senin segera kirim dan sms bapak. Senin kita akan
diskusi lebih matang lagi. Pkonya sekarang kamu daftar dulu aja. Pembimbing dua
said.
Pembimbing satu said : sampai senin
kan? Tenang aja. Coba dilihat lagi hasil rapat untuk kapannya terahir
pendaftaran.
Pembimbing dua. Coba saya telfon dulu
ke jurusan.
masyaAllah pengen nangis liat baiknya
bapak.
Pembimbing 1 : yaudah sekarang daftar
dulu aj. Meraih lembar persetujuan.
Pembimbing 2 pokonya sampai sidang
tetep bimbingan yah.
Pembimbing 1 : senin nanti saya mau lihat. Sekalian ini
simpulannya. Summary sama conclusion itu beda ya. Tolong bedakan.
Dan saya manggut-manggut aj.
“Kegambar kan ki?” pembimbing 2 said.
“Eh iya pak.” Aku mencoba tersenyum
Padahal belum sepenuhnya mengerti.
Yang terbayang adalah jurusan sebentar lagi tutup.-_-_tiba-tiba saya teringat
dengan Enong. Seorang wanita yang hanya lulusan sekolah dasar yang selalu ingin
belajar. Novel karya Andrea Hirata. Beginilah kutipan kecilnya “ berikanlah aku
sesuatu yang sangat sulit. Aku akan belajar.!” Kurang lebih seperti itu. Masa aku
sudah mau lulus menyerah begitu saja? Nasib saya hampir sama dengan teman yang
belum diizinkan oleh pembimbing satu. Tapi saya ikhtiarkan dengan optimal dan
tawakkal dihari ini. Hari terakhir pendaftaran sidang. Jika tidak sekarang
entah akan kapan karena jurusan kami tidak membuka sebulan sekali seperti
dijurusan lain. Dan teman saya hanya menunggu dan menyerah...padahal tinggal
sedikit lagi. Bukan bermaksud membandingkan dan merasa lebih baik. Namun saya
mencoba belajar bagaimana sebuah ikhtiar, keyakinan dan kekuatan tawakkal
diperas bersamaan menghasilkan kebahagiaan.:’)
Begitulah ikhtisar percakapan siang
jum’at berkah ini. Sedih, gemetar, bahagia, kagum gemuruh dalam ruang dada tak
tertahankan. Ingin rasanya menitikkan air mata. Namun belum saatnya. Segera aku
berlari menuju jurusan merapihkan berkas-berkas pendaftaran. Dan itulah saking
riwehnya satu jam berkutat dengan hanya tiga map dan beberapa berkas. Belum
juga usai. Tangan dan kaki terasa kebas. sangat dingin. Gemetar terasa sampai dasar
hati. Kekalutan itu bertambah seiring dengan alunan lagu dangdut yang terdengar
dijurusan. Ah. Semakin tak konsen. Kayaknya gemetar ini ditambah karena tak
makan.-_-
Akankah bisa?
“Wah cepetan neng daftarnya. Uda mau
tutup ini. “ teh Viji salah satu staf administrasi dijurusan. Perkataan beliau
membuat saya sampai lupa dengan perut yang ternyata sudah berdemo karena tak
diisi sejak pagi. Cuman berbekal habbat seusai shalat subuh tadi. Teman dekat
datang untuk melihat pun aku abaikan.
“neng bisa fotocopiin bentar ini?
Saya tunggu sekarangya di ruang lab referensi, dikelas ppk atas.” Ujar pak
pembimbing 2 ketika bertemu dijurusan. Ketika tengah riweh mengurus berkas.
Segera berlari dan kembali fokus meminta jurusan agar tak tutup dulu. Jam dua
sudah sangat sepi.
“Sinih teteh bantu. Jangan gempeur
kiki. Kalem aj. Yuk bareng sama teteh ke fakultasnya. Kita benerin dlu sinih
teteh bentu masukin yah. Mana ftonya. Eh ini ada yang belum dibolongin.” Teteh
itu angkatan atas. Tak pernah mengenalnya. Tengah hamil 3 bulan. Ya Allah aku
doakan agar dedenya shalih shalihah dan cerdas selalu membantu orang lain.^^
Yah begitulah pertolongan Allah...
Aku semakin malu...
Dalam perjalanan pulang, nalarku
mengatakan bahwa. Ternyata sifat menunda dan pesimis itu beriring bersamaan.
Akan mengantarkan siapapun pada jurang kegagalan.
Saya dapat membayangkan jika saya
menyerah begitu saja kesempatan ini akan berlalu dengan sia-sia.
Apapun harus dibarengi dengan kesungguhan.
Terlebih syurga...
Dalam riwehnya pendaftaranpun sangat
membuat gemelutuk hati dan memeras perasaan. Lupa dengan teman, dan lingkungan
sekitar. Apalgi kelak yaumil hisab ya Allah. Hal inilah yang bertengger sejak
saya riweh tadi pagi. Hal sekecil ini saya dapat melupakan semuanya. Apalagi
kelak.
Bandung, 6 Desember 2013 , saat
merasa sangat bodoh karena “label” teman se SMA uda pada wisuda, orangtua yang
selalu menanyakan, dan perasaan bersalah karena belum dapat membuat kedua
orangtuaku tersenyum bercampur jadi satu. dibilang pintar dan keren oleh dosen itu, seperti dahaga
mendapat pusara air jernih tak berujung digurun pasir yang tandus^^








0 Response to "Cloudy December"
Post a Comment