Sebuah Pembenaran




Gambar adalah karya seorang akhwat muslimah dengan nama pena Sarah Elsisya

Nurul Hidayati Kusumahastuti; Ibu Rumah Tangga yang Profesional
May 03, 2013 / by adminrki / 2 Comments

Menjadi ibu rumah tangga yang profesional. Seperti apa bentuknya?
Kalimat ini kedengarannya masih kurang akrab di telinga kita. Namun tidak bagi Nurul Hidayati, aktivis dakwah yang sangat concern dengan tugas-tugasnya sebagai seorang ibu dan isteri. “Manager keluarga” demikian Nurul menyebut aktivitas utamanya.
“Bayangkan, seorang Kathy Peel mantan CEO perusahaan besar di Amerika dengan kesadarannya yang tinggi bersedia meninggalkan karirnya untuk lebih mengutamakan tugas sebagai ibu agar dapat menjadi ibu rumah tangga yang profesional,” Nurul mencontohkan orang lain yang sekuler.
Kadang Nurul melihat beberapa akhwat yang merasa useless karena tidak ada kegiatan di luar rumah. Menurutnya, mungkin para akhwat itu belum menikmati tugasnya sehingga menjadi merasa tidak berarti karena hanya mengurusi rumah tangga saja. Padahal, katanya, mengurus rumah tangga merupakan tugas berat dan besar yang memerlukan profesionalisme. Tugas itu berkaitan dengan penggodokan generasi dan untuk peradaban baru di masa mendatang.
Perempuan yang punya hobi menata rumah ini mengatakan, menata rumah itu ada filosofinya. Baginya, rumah serta bagian-bagiannya adalah cermin dari diri kita. Apalagi bagi seorang daiyah, di mana rumah dan keluarganya tak luput dari perhatian orang. “Di luar ya kita berdakwah, tapi jangan sampailah kondisi di rumah kita tak mencerminkan hal-hal Islami seperti apik, bersih, dan rapi adalah hal-hal manusiawi yang disukai semua orang,” tutur Nurul ramah. Meski Nurul tak punya khadimat tapi suasana tampak rapi dan bersih. Halaman rumahnya penuh bunga-bunga yang menyejukkan mata.
Nurul menambahkan, tak sedikit akhwat yang stres pascamenikah karena mereka tak mempersiapkan diri dengan keterampilan rumah tangga. Sebelum menikah, katanya, fokus lebih banyak di luar rumah, dari kuliah, mengaji, hingga bekerja. Ketika menghadapi cucian menumpuk, anak rewel, rumah berantakan, mereka bingung dan tak terampil menatanya. “Urusan rumah memang tak ada sekolah khususnya, tapi itulah kita perlu belajar dan mendengar dari pengalaman orang lain,” terangnya.
Sama-sama berasal dari keluarga aktivis nan sibuk, Nurul menikah dengan Al-Muzzammil Yusuf tahun 1990. Perempuan kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini menyenyam pendidikan tinggi di beberapa jurusan, yakni FISIP, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, serta program pascasarjana Manajemen.  Berbekal segudang ilmu yang ditekuninya itu, ia mendirikan Zamrud Personal Development Center tahun 1991 yang berkutat pada pengembangan diri muslimah. Ia sendiri menjadi salah seorang trainer utamanya.
“Saya punya 3 anak di akhirat dan 3 anak di dunia,” cerita Nurul tentang buah hatinya. Lho? Putera pertamanya, Asadullah Abdul Qohar, yang lahir Agustus 1991 menghadap Rabbnya tahun 1992. Putera ketiganya, Abdul Rohim, wafat tak lama setelah operasi cesar. Sedangkan puteri keenamnya, Syahidah Salsabila yang baru berusia 4 bulan juga meninggal akibat penyakit yang tak diketahui penyebabnya (sudden infant death syndroms).
Ketiga anaknya di dunia adalah Akrom Abdurrohman, 11, yang kini nyantri di Pesantren Daarul Huffaz, Lampung, Salma Sholihah, 6, kelas 1 SDIT Al-Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan, serta Shofiyah Sakinah, 3, TKIT Al-Hikmah, Jakarta.
Nurul dan suaminya begitu sayang pada anak-anaknya. Untuk ketiga anaknya yang syahid itu Nurul memperlihatkan sebuah buku dan lembaran-lembaran yang berisikan puisi serta kalimat-kalimat yang dihadiahkan buat untuk anandanya tercinta. “Kehilangan orang-orang yang amat kita cintai begitu memilukan. Bila tak dikembalikan semuanya pada Allah, bisa-bisa syetan masuk menggoda kita,” katanya.
Nurul berpesan, bila kita berta’ziyah pada orang yang tertimpa musibah sebaiknya jangan menanyakan sebab, tapi hiburlah. Apalagi dengan memberi hadiah berupa buku atau berupa tulisan kita tentang kesabaran. “Setelah mengalami sendiri musibah seperti itu, saya selalu berupaya untuk melakukan hal seperti demikian,” tuturnya. Kerap bertanya ”sebab”, katanya, malah akan mengingatkan kembali luka-luka yang mau kita sembuhkan.  Kini bersama kedua anaknya, Nurul menjalankan aktivitas rumah tangganya di Jalan bangka II, Jakarta Selatan, tempat terdekat menuju sekolah anaknya.  [Itut Seventina A/saksi]


Sebersit berita ini menjadi penguat cerminan apa yang tengah berkecamuk dalam benak saya (saat ini).hee
 Awalnya saya merasa sedikit minder dengan orientasi saya yang menurut saya sedikit berbeda dengan orang lain. Ketika orang lain berniat atau bahkan memimpikan ketika sudah menikah maka akan tinggal dikota, dengan segudang aktivitas dan target karir yang ingin dicapai. Namun jauh dari semua itu saya memiliki pemikiran yang berbeda. Saya lebih suka dengan aktivitas dirumah. Membersihkan rumah, berkebun mencat kamar anak-anak, atau bahkan menyiapkan makanan dan menseting bagaimana aktivitas keluarga kecil saya kelak. Tak apa hidup dipedesaan. Ataupun jika dikota sangat berharap ketika sudah melahirkan, maka fokus saya selanjutnya adalah “bekerja” dirumah. Ini pilihan saya. Bersebrangan dengan para pemikir feminis yang beranggapan bahwa ketika seorang istri dirumah maka terkuburlah  segala potensi dan kebebasannya. Justru saya merasa tak bebas dengan lingkungan kerja yang bercampur baur. Bahkan saat ini saya dihadapkan pada beberapa pilihan pekerjaan dengan berbagai kondisi lingkungan yang belum tentu nyaman. Ketika saya bersikukuh ingin bekerja di boarding, SD, atau sekalian perguruan tinggi. Agar tidak bersentuhan dengan anak-anak. Self oriented.-_-
Agar wudhu selalu terjaga dan kekhusuan mengamalkan ilmu juga terjaga.
Justru saya merasa sangat tenteram ketika di “tugaskan” oleh imam saya kelak. Misalkan tetap dirumah, belajar menghafal dan membantu anak menghafal, membuat usaha serta asah terus keterampilan menulisnya. Wiiih syurga.hhe
Meskipun memang saya berkeinginan dan tengah mengikhtiarkan untuk melanjutkan ke jenjang master bahkan mungkin Doktor, karna ilmu tak ada batasnya untuk diraih. Semakin saya menggelutinya. Semoga semakin bermanfaat dan berkah.
Akhirnya suatu ketika saya menemukan teman yang sama pemikirannya seperti saya,hee
Berarti memang saya ”normal”. Saya teringat quote salah seorang penulis
“perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, bukan tulang punggung.”
Yap, itulah hakikatnya istimewanya perempuan, madrasah peradaban. Selalu ingat dengan perkataan ummi pada saya, ketika saya dan adik saya hendak memilih jurusan diuniversitas,
“pilih jurusan yang ketika bekerja nanti tidak menghabiskan waktu diluar, kalian itu perempuan. Kalaupun bekerja niatkan untuk mengamalkan ilmu dan duhur harus sudah dirumah, mempersiapkan makanan, menyambut anak-anak dan suami.”
Belajar dari kesalahan ummi, kuliahlah sekarang. Ambil ilmu sebanyak-banyaknya, insyallah jodoh sudah Allah siapkan. Jangan pernah takut. Irulah yang membuat saya merasa terntram. Do’a yang tulus dari seorang Ibu. ummi dulu selesai SMA , beberapa bulan mengajar langsung menikah dan kuliah saat kami masih kecil. Sehingga cukup menyulitkan bagaimana ummi harus memenej semuanya. Padahal dulu ummi dapat sejenis PMDK namun kakek tak mengizinkan dan malah menikahkannya. Selain itu bapak (ayah) juga tak mengizinkan ummi untuk mengajar bapak lebih suka ummi dirumah mengurus anak-anak yaitu kami berlima. Setelah sekian lama, ummi membuktikan kesungguhannya untuk menuntut ilmu dengan mendapatkan beasiswa saat kami masih disekolah dasar waktu itu.
 Selain itu, ambil ibroh juga dari apa yang ummi lakukan. Bekerjalah seperti ummi, bekerja setelah anak-anak sudah besar. Anak-anak sudah melewati fase emasnya. Begitulah, ummi selalu rajin memberiku nasihat. _Terlebih saat ini.
Seperti tulisan saya sebelumnya, ummi selalu cerewet ketika saya tengah memasak. Jangan boros bumbu, jangan berantakan dan bereskan seperti semula. Dan sebagainya. Hingga kini kata-kata peringatan ummi sedikit bertambah
“bereskan yang rapih, nanti malu-maluin kalau dirumah merutua.-_-
Ummi telah mengajarkan banyak hal. Membuat kue, mensiasati masak berbagai jenis makanan dengan bumbu yang ada, menanam, ummi lebih rajin nanem dari pada bapak.heu
Bahkan mengajarkan bagaimana menabung ketika diamani uang oleh seseorang (ga tega bilang suami).huft>siul-siul gajelas.
Memang mungkin setiap orang memiliki persepsi berbeda tentang hal ini. Meskipun begitu, tidak boleh pula menyamaratakan persepsi feminis yang terkesan memaksakan pemikiran suatu golongan wanita pada setiap golongan wanita diseluruh dunia. Banyak faktor yang melatarbelakanginya. Budaya, lingkungan bahkan keluargapun menjadi tolak ukur kepribadian dan persepsi seseorang terhadap dunia disekitarnya.
Tulisan diatas mempertegas keinginan saya untuk dapat belajar profesional mendidik anak-anak saya kelak, Terutama dalam sisi tawazun yang ditanamkan.
Tulisan ini diharapkan menjadi sarana pembenaran dan penguatan bahwa tidak ada yang salah dengan jabatan “Ibu Rumah Tangga” yang menjadi masalah adalah ketika kita menjadi IRT kita lantas tidak produktif. Cari bakat dan potensi dari sekarang. Gali ilmunya. Agar kelak diamalkan dan dapat menjadi sarana pembelajaran untuk anak-anak dan kemaslahan untuk semua. #so’ bijak banget padahal belum nikah.
Karena perangai orangtua, rizqi yang halalan thayyiban, lingkungan yang “nyaman”. Serta tauladan menjadi sarana ampuh pembentukan karakter seorang pemimpin.
insyaAllah jika sudah diniatkan, diikhtiarkan dari sekarang. Maka meskipun tak dapat seluruhnya Allah sudah mencatat bagaimana ikhtiar kita untuk mewujudkannya. Wallahua’lam Bishawab.

Karna kita, adalah cerminan generasi kita...
Asi 2 tahun, pembekalan gizi, penanaman akidah yang lurus serta penajaman keterampilan bahasa, sosial, emosional, norma, motorik halus dan kasar sejak dini. Menjadi penentu masa depan seorang manusia.
Kept fight great Mother^^

10-12-2013
20:05
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Sebuah Pembenaran"

Post a Comment

Copyright 2009 Pelangi Rizqi
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates