Rekonseptualisasi dan Profesionalisasi Bimbingan dan Konseling


Profesionalisasi adalah suatu proses yang berlangsung secara terus-menerus karena dapat menjadi alat untuk mengembangkan dan meningkatkan diri bagi tenaga yang menjalankan suatu profesi. Hal ini berarti pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan kriteria profesi yang terus-menerus berkembang sehingga tingkat keahlian, tingkat tanggungjawab serta perlindungan terhadap profesi menjadi lebih sempurna. Profesionalisasi yang dimaksud adalah profesionalisasi guru bimbingan dan konseling. Melalui proses profesionalisasi akan dihasilkan produktivitas kerja guru bimbingan dan konseling yang tinggi serta kualitas profesi bimbingan dan konseling yang semakin lama semakin baik.
Guru bimbingan dan konseling adalah tenaga profesional yang memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa. Guru bimbingan dan konseling merupakan ujung tombak pelaksanaan bimbingan dan konseling karena tugas guru bimbingan dan konseling terkait dengan pengembangan perilaku siswa terutama untuk mempersiapkan masa depan siswa. Tugas dan tanggungjawab guru bimbingan dan konseling sangat berat karena sekalipun sudah dibekali dengan wawasan dan keterampilan namun belum menjamin tercapainya tujuan konseling. Melalui pendidikan dan pelatihan, guru bimbingan dan konseling dapat mengembangkan diri menjadi tenaga profesional. Upaya peningkatan kualitas diri pada akhirnya akan mendapat tempat di hati masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk memotret hasil telaah pustaka tentang upaya profesionalisasi guru bimbingan dan konseling dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya menjadi tenaga yang profesional. Metoda yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah studi kepustakaan yang disajikan secara deskriptif dengan cara membaca, mengkaji dan membandingkan isi buku, surat kabar, internet, literatur, skripsi, tesis, dan makalah.
Hasil studi kepustakaan ini menggambarkan bahwa profesionalisasi guru bimbingan dan konseling saat ini merupakan masalah yang penting untuk ditangani. Profesionalisasi sangat terkait dengan kompetensi dan kualitas diri guru bimbingan dan konseling sehingga perlu upaya peningkatan menjadi tenaga profesional. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti seminar, pelatihan, workshop, lokakarya serta penelitian yang terkait dengan profesi dan bidang lainnya. Peningkatan kualitas diri guru BK diharapkan mampu menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat sekitarnya.
Berbicara tentang konseling, sesungguhnya kita membicarakan wilayah kehidupan yang cakupannya sangat luas, yang bisa jadi  tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Wilayah itu bisa meliputi hal-hal yang bersifat isu sampai dengan hal yang nyata terjadi di sini pada saat ini; dari kehidupan yang terjadi di kota surabaya ini sampai apa yang dirasakan di Santa Monica di Amerika sana. Dari setitik air sampai luasnya samudera di dunia; dari persoalan neraka sampai bayangan ke sorga; dari kondisi mbeling sampai kekhusyukan eling yang luar biasa.
Konseling membicarakan berbagai hal tentang sekolah dan rumah; tentang remaja dan dewasa; tentang iman dan takwa; tentang aku, engkau, dia dan kita; tentang dunia dan akhirat; tentang langit dan bumi; tentang desa; kota dan metropolitan; tentang pasar dan swalayan; tentang laki-laki dan perempuan; tentang hidup dan mati; tentang rendang dan sambal terasi; tentang semir sepatu sampai angkat kaki meninggalkan istri; tentang segala sesuatu yang dapat Anda kemukakan di sini, dan lain sebagainya luar biasa.
Konseling membicarakan “segalanya”, dalam koridor keprofesionalannya. Dengan demikian apabila dikatakan bahwa konseling hanya membicarakan hal-hal yang sekitar wilayah pendidikan, apalagi dipersempit menjadi wilayah sekolah atau madrasah, maka pembatasan itu sangat memasung keprofesionalan konseling dan lalai memasang WPKNS (wawasan, pengetahuan nilai, dan sikap) yang mendunia profesi konseling itu.
Mengapa SDM konseling perlu diprofesionalisasi?
Sangatlah beralasan diperlukannya upaya profesionalisasi SDM konseling. Di sini kita bahas lima alasan, yaitu karena:
  • Konseling adalah suatu profesi
    • Konselor adalah pendidik dan pendidik adalah tenaga profesional
    • Tuntutan untuk ditegakkannya SKAKK
    • Konseling untuk berkehidupan yang berkualitas
    • Persaingan antarprofesi
Konseling adalah Suatu Profesi
Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa isi sebuah profesi adalah pelayanan, tetapi bukan sembarang pelayanan, melainkan pelayanan yang sebenar-sebenarnya pelayanan, yang dilandasi rasa cinta dan kasih sayang, melalui diterapkan kompetensi yang tinggi, dan dilaksanakan dalam bentuk tindakan nyata. Untuk itu terkonsepsikanlah trilogi pelayanan yang menjadi landasan teknologi-operasional pelayanan dalam suatu profesi yaitu sebagai berikut :
Untuk terbina dan terlaksana pelayanan profesional Full (1967 ) memberikan lima ciri mendasar bagi suatu entitas pekerjaan yang disebut profesi, yaitu bahwa suatu profesi :
  • Bersifat keintelektualan
  • Dilaksanakan dengan kompetensi yang dipelajari
  • Dengan fokus objek praktis spesifik tertentu
  • Dilaksanakan dengan motivasi altruistik
  • Berbagai aspeknya dikembangkan melalui media komunikasi dan organisasi profesi
Cinta dalam pelayanan profesi diwujudkan dalam bentuk motivasi altruistik, dan dilaksanakan melalui tindakan secara berkeintelektualan tertuju kepada objek praktis spesifik profesi yang dimaksud melalui penerapan kompetensi berkualitas tinggi yang telah dipelajari. Aspek-aspek pelayanan tersebut dapat dikomunikasikan, dengan menjaga asas kerahasiaan, kepada pihak-pihak yang berkepentingan, dan untuk pengembangan profesi. Organisasi profesi menunjang terselenggarakannya komunikasi itu, terutama untuk pengembangan profesi.
Trilogi Profesi
Memperhatikan ciri-ciri mendasar tentang profesi di atas dan arah pengembangan profesi serta pembinaan tenaga profesional, dikonsepsikan adanya komponen-komponen pokok yang membentuk profesi itu dalam konsep/teori, praksis dan praktiknya. Ada tiga komponen profesi yang membentuk trilogi profesi pada umumnya, yaitu:
Dasar keilmuan profesi memberikan landasan keintelektualan profesi yang dimaksud. Landasan keilmuan itu “menyinari” seluruh substansi profesi, terutama berkenaan dengan objek praktis spesifik dan aspek-aspek teknologi-operasional pelayanan profesi, termasuk di dalamnya seluruh unsur WPKNS profesi. Apa yang menjadi dasar keilmuan dan substansi profesi itu dilaksanakan secara nyata dalam bentuk praktik profesi. Tidaklah memadai dan memenuhi syarat-syarat profesi apabila SDM konseling tidak memahami, menguasai dan menerapkan dalam praktik komponen trilogi profesi itu. Dengan demikian SDM profesi perlu diprofesionalisasi ke arah trilogi profesi itu.
Konselor adalah Pendidik dan Tenaga Profesional
Kutipan-kutipan berikut dengan jelas memperlihatkan perpaduan permanen, tidak bisa ditawar-tawar, antara konselor sebagai pendidik dan konselor sebagai tenaga profesional:
UU No. 20/2003: Pasal 1 Butir 1
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
UU No. 20/2003: Pasal 39 Ayat 2
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
UU No. 14/2005: Pasal 1 ayat (4) UGD
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi
Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, dikonsepsikan adanya trilogi profesi pendidik, sebagai berikut :
Ada delapan sub-profesi pendidik, yaitu profesi guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator. Semua sub-profesi pendidikan
memprofesionalisasikan SDM-nya ke arah trilogi pendidik tersebut .
Praktik Profesi
1
2
3
4
5
6
7
8
Ilmu Pendidikan
1. Guru                                                5. Widyaiswara
2. Dosen                                              6. Tutor
3. Konselor                                        7. Instruktur
4.  Pamong Belajar                         8.  Fasilitator
Profesi konselor, sebagai pendidik, memiliki kekhasan, terutama dalam substansi profesinya, yang diimplikasi pada kekhususan praktik profesinya. Trilogi profesi konselor sebagai pendidik adalah sebagai berikut :
Landasan keilmuan profesi konselor adalah Ilmu Pendidikan, sama dengan sub-profesi pendidik lainnya. Substansi profesi konseling adalah apa yang dikonsepsikan sebagai KES (kehidupan efektif sehari-hari) yang di dalamnya terimplikasi KES-T (kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu). Terhadap objek praktis spesifik KES/KES-T itu diberikan pelayanan melalui modus pelayanan konseling dengan teknologi-operasional, terutama dalam bentuk jenis-jenis layanan konselor dan kegiatan pendukung. Tindakan praktik profesi konselor terwujud dalam proses pembelajaran yang isinya berupa layanan konseling dan kegiatan pendukungnya itu.
Untuk membedakan profesi konselor dan profesi guru misalnya, di sini dapat dikemukakan bahwa objek spesifik profesi guru adalah PMP (penguasaan materi pelajaran) yang di dalamnya terimplikasi PMP-T (penguasaan materi pelajaran yang terganggu. Terhadap objek spesifik praksis PMP/PMP-T itu diberikan oleh guru layanan pembelajaran melalui modus pengajaran yang mencakup berbagai metode mengajar dan berbagai alat bantu pengajarannya. Tindak praktik profesi guru terwujud dalam proses pembelajaran yang isinya berupa proses mengajar dan berbagai kontekstualnya.
Tuntutan SKAKK
Permendiknas No.27 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Akademik dan Kompetensi Konselor memberikan batasan tentang siapa itu konselor dan apa-apa saja yang menjadi kompetensi konselor. Di sana ditegaskan bahwa konselor adalah lulusan S1 bimbingan dan konseling yang telah menamatkan program Pendidikan Profesi Konselor (PPK). Konselor dalam batasan demikian itu menguasai segenap kompetensi sebagaimana dikemukakan di dalam Permendiknas itu, yang meliputi 17 kompetensi inti dengan 76 kompetensi jabarannya.
Konsekuensi dari tuntutan Permendiknas itu adalah bahwa untuk menjadi konselor yang benar-benar profesional, maka (calon) SDM konseling itu perlu diprofesionalisasikan sehingga menjadi konselor yag memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum pada Permendiknas SKAKK itu. Lebih terarah lagi, yaitu penugasan dalam Permendiknas itu bahwa :
Penyelenggara pendidikan yang satuan pendidikannya mempekerjakan konselor wajib menerapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri paling lambat 5 tahun setelah Peraturan Menteri ini mulai berlaku.
Berdasarkan pasal tersebut, sangatlah terarah bahwa sampai kira-kira tahun 2013 seluruh SDM konseling sudah diprofesionalkan  dan bergelar konselor dengan batasan dan kompetensi tersebut di dalam SKAKK. Untuk itu, media pembinaannya adalah program PPK yang didahului oleh ditempuhnya program Sarjana (S-1) BK, dengan spesifikasi:
  1. Bobot 36-40 sks (sesudah S-1 BK)
  2. Orientasi kerja praktik
  3. Ijazah dengan gelar profesi konselor
  4. Sertifikasi bidang profesi konseling
  5. Kewenangan untuk praktik privat pelayanan konseling
Dengan gelar profesi konselor di tangan, SDM konseling berkewenangan bekerja dengan arah beriku :
  1. Pengangkatan ”formal”, pada satuan-satuan pendidikan formal dan non formal, serta satuan kelembagaan bekerja/kedinasan;
  2. Kegiatan/penugasan “nonformal”, pada setting keluarga dan kelembagaan non formal sosial-kemasyarakatan;
  3. 3. Praktik privat.
Konseling untuk Kehidupan yang Berkualitas
Tidak perlu ada pelayanan konseling; tidak perlu ada profesi konseling; tidak perlu ada SDM konseling yang diprofesionalisasikan; apabila itu semua tidak untuk kehidupan yang berkualitas; untuk kehidupan yang mensejahterakan dan membahagiakan. Kehidupan berkualitas yang bagaimana ? Yaitu yang :
  • Mengaktualisasikan harkat dan martabat manusia (HMM)
  • Mandiri
  • Sukses
Dengan rincian sebagai berikut :
Komponen HMM
1.Hakikat manusia, yaitu manusia sebagai makhluk yang :
-          beriman dan bertaqwa
-          diciptakan dalam kesempurnaan
-          berderajat paling tinggi
-          sebagai khalifah di muka bumi
-          penyandang HAM
2.Pancadaya Kemanusiaan, meliputi :
-          daya taqwa
-          daya cipta
-          daya rasa
-          daya karsa
-          daya karya
3.Dimensi kemanusiaan, meliputi :
-          dimensi kefitrahan
-          dimensi keindividualan
-          dimensi kesosialan
-          dimensi kesusilaan
-          dimensi keberagamaan
Kondisi Mandiri, meliputi tahap :
1.Memahami diri sendiri dan lingkungan secara objektif dan dinamis
2.Menerima diri sendiri dan lingkungan secara objektif dan dinamis
3.Mengambil keputusan
4.Mengarahkan diri sendiri
5.Mewujudkan diri sendiri
Kondisi Sukses, dengan karakteristik :
1.dimilikinya kompetensi
2.dilaksanakannya usaha
3.dilakukannya doa
4.diterimanya hasil usaha dengan kesyukuran atau keikhlasan
5.konsisten dalam mengkondisikan karakteristik sukses
Segenap kondisi kehidupan yang didalamnya terkandung realisasi unsur dari rincian HMM, kemandirian itu dan sukses itu mencerminkan ciri berkehidupan bahagia, yang secara langsung terwujud dalam perilaku KES dengan isi adanya:
1.tujuan
2.kompetensi
3.efektifitas/efesiensi
4.nilai/moral
5.kesyukuran/keikhlasan
Kondisi KES yang dikonsepsikan itu mengimplementasi adanya/dimungkinkan nya terjadi kondisi KES-T. Untuk kondisi KES dan KES-T itu, maka pelayanan konseling pada dasarnya terarah pada (a) pengembangan KES, dan (b) penanganan KES-T. Profesionalisasi SDM konseling tidak lain adalah membina SDM  menjadi ahli dalam pengembangan KES dan penanganan KES-T itu dalam kerangka trilogi profesi konseling.
Profesi Konselor di antara Berbagai Profesi
Di mana posisi profesi konselor di antar berbagai profesi yang ada, seperti profesi dokter, psikiater, psikolog, apoteker, akuntan, dan lain-lain ? Samakah kedudukan, derajat dan martabat profesi konselor dibanding profesi-profesi lain itu? Sederajat ? Duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi ? Atau menjadi bagian dari atau subordinansi dari profesi lain yang ada itu, atau bahkan menjadi underdog, atau sekedar penambah atau pelengkap, sebagai ban serap ? Atau pada sisi yang lain, sebagai pesaing terhadap profesi-profesi yang sudah ada itu. Dalam kaitan itu semua, satu hal yang perlu menjadi pemahaman adalah tentang kebermartabatan suatu profesi, yang dicirikan oleh tiga karakteristik, yaitu (a) kebermanfaatan profesi, (b) kebermandatan pelaksanaan profesi, dan (c) pengakuan sehat atas profesi yang dimaksudkan itu oleh pemerintah dan masyarakat. Kemartabatan ini diisi oleh kelima ciri profesi yang dimaksud dengan komponen trilogi profesi.
Alih-alih menjadi subordinasi atau sebaliknya, menjadi pesaing profesi-profesi lain yang ada, profesi konseling harus membina dan membesarkan diri untuk menjadi profesi yang bermartabat dengan ciri-cirinya di atas, sehingga berada dalam posisi “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi” dengan profesi-profesi yang dimaksudkan itu. Program PPK (sesudah program S-1 BK) menjadi media yang paling dapat diandalkan untuk memprofesionalisasikan SDM konseling menjadi benar-benar profesional, sebagai pemegang gelar profesi konselor yang memahami, menguasai dan mempraktikkan segenap kaidah profesional konseling sebagaimana tersebut di atas. Ke sanalah upaya profesionalisasi SDM konseling diarahkan dan diselenggarakan dengan sesungguh-sungguh.











  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Hakikat Bimbingan dan Konseling


A.   Latar Belakang Perlunya Bimbingan dan Konseling

1.       Latar Belakang Psikologis
  1. Individu merupakan pribadi yang unik,sedang berkembang kearah kematangan merupakan perubahan yang dinamis.
  2. Perbedaan individual ( kecerdasan, emosi, stabilitas, sikap, kebiasaan, kemampuan penyesuaian diri, kebutuhan, dll)
  3. Fluktuasi dan / atau stagnasi dalam proses perkembangan yakni masalah-masalah psikologis (delinquency, infantile, maladjusmant, dll.)
2.       Latar Belakang Sosial Budaya
  1. Dampak modernisasi (kehidupan yang terlalu berorientasi kepada materi yakni menggejalanya berbagai problema sosial dan pribadi)
  2. Perubahan pola kehidupan dikota dan desa(culture shock)
  3. Perubahan dalam kontelasi keluarga
3.      Latar Belakang Agama
  1. Individu sebagai mahluk tuhan(fitrah sebagai khalifah dan hamba,homo religios)
  2. Tantangan terhadap dimensi spiritualitas individu(dedikasi moral,budaya hedonistic,penyakit- penyakit hati..
  3. Pengaruh agama terhadap kesehatan mental.
4.      LatarBelakang Pendidikan
  1. Demokratisasi yakni perkembangan pendidikan yang bersifat meninggi,meluas dan mendalam.
  2. Meninggi : bertambahnya kesempatandan kemungkinan untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tingi yakni kebutuhan pilihan jenjang pendidikan yang tepat.
  3. Meluas : Pembagian sekolah dalam berbagai jurusan khusus dan sekolah kejuruan yakni kebutuha pilihan jurusan dan bidang studi yang tepat.
  4. Mendalam : berkembangnya ruang lingkup dan keragamanserta pertumbuhan tingkat kerumitan tiap bidang studi yakni pengembanan kemampuan,sikap danminat serta perhatian individual
5.       Latar Belakang Perkembangan IPTEK
  1. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan,informasi dan teknologi yakni dampak positif dan negative
  2. Semakin kompleksny jenis-jenis dan syarat pekerjaan,persaingan antar individu sebagai dampak dari penerapan teknologi maju.

B.     Kedudukan Bimbingan dalam pendidikan
Pendukung utama bagi tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia yang bermutu tidak cukup dilakukan hanya melalui transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus didukung oleh peningkatan profesionalisasi dan system manajeman tenaga kependidikan serta pengembangan kemampuan peserta didik untuk menolong diri sendiri serta memilih dan mengambil keputusan demi pencapain cita-citanya.
Pencapaian standar kemampuan akademis dan tugas-tugas perkembangan peserta didik,memerlukan kerjasama yang harmonis antara para pengelola atau manajemen pensisikan,pengajaran,dan bimbingan,sebab ketiganya merupakan bidang-bidang utama dalam pencapaian tujuan pendidikan.

C.    Pengertian Bimbingan dan Konseling
  1. Bimbingan merupakan suatu proses yang berkesinambungan bukan kegiatan yang seketika atau kebetulan. Bimbingan merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana yang terarah kepada pencapaian tujuan.
  2. Bimbingan adalah Proses upaya bantuan yang diberikan kepada individu untuk mencapai perkembangan optimal
  3. Pengertian proses dalam bimbingan : runtutan perubahan peristiwa dalam perkembangan sesuatu atau tindakan yang menghasilkan produk
  4. Pengertian bantuan dalam bimbingan : menunjukkan bahwa yang aktif dalam pengembangan diri,mengatasi masalah,atau mengambil keputusan adalah peserta didik sendiri
  5. Makna individu dalam bimbingan : manusia yang tengah berkembang dengan keunikannya.
  6. Makna Perkembangan dala bimbingan : Chaplin (2002) mengartikan perkembangan sebagai : (1)Perubahan berkesinambungan dan progresif dalam organisme,dari lahi sampai mati(2) Pertumbuhan(3) Perubahan dalam bentuk dan integrasi dari bagian-bagian jasmaniah kedalam bagain-bagian fungsional,(4) kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari.
  7. Makna Optimal dalam bimbingan : Hasil usaha yang dilaksanakan dengan sungguh sungguh dan mlalui berbagai pertimbangan yang dinamis sehingga menghasilkan suatu keputusan yang optimal.

D.    Ragam Bimbingan menurut masalah
1.      Bimbingan akademik : Bimbingan yang diarahkan untuk memantapkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah akademis.
2.      Bimbingan Sosial-Pribadi : Merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah social-pribadi.
3.      Bimbingan Karir
4.      Bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan,pengembangan dan pemecahan masalah-masalah karir seperti : pemahama terhadap jabatandan tugas-tugas kerja.
5.      Bimbingan Keluarga : Merupakan Upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis

E.     Tujuan Bimbingan
  1. Agar individu dapat : Merencanakan kegiatan penyelesaian studi,perkembangan karir,serta kehidupannya dimasa yang akan datang.
  2. Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin
  3. Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan,lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya.
  4. Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi,penyesuaian dengan lingkungan pendidikan,masyarakat,maupun lingkungan kerja.

F.     Fungsi Bimbingan
                                     1.      Pemahaman :yaitu membantu peserta didik agar memiliki pemahaman terhadap dirinya
                                     2.      Preventif : Yaitu upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berusaha untuk mencegahnya,supaya tidak dialami oleh peserta didik.
                                     3.      Pengembangan : yaitu konselor senantisa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif,yang memfasilitasi perkembangan siswa
                                     4.      Perbaikan (penyembuhan) : yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Yang berkaitan denan pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah,baik yang menyangkut aspek pribadi,social,belajar,maupun karir.
                                     5.      Penyaluran : Yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu memeilih kegiatan ejstrakulikuler,jurusan atau program studi,yang memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat,bakat,keahlian dan cirri-ciri kepribadian lainnya.
                                     6.      Adaptasi : yaitu fungsi membantu pelaksana pendidikan khususnya konselor,guru atau dosen untk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan,minat,kemampuan,dan kebutuhan individu(siswa).
                                     7.      Penyesuaian : Fungsi bimbingan dalam membantu individu(siswa) agar dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif terhadap program pendidikan,peraturan sekolah,atau norma agama.

G.    Prinsip-Prinsip Bimbingan
1.      Bimbingan diperuntukan untuk semua individu
2.      Bimbingan bersifat individualisasi
3.      Bimbingan menekankan hal yang psitif
4.      Bimbingan merupakan usaha bersama
5.      Pengabilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan
6.      Bimbingan berlangsung dalam berbagais etting
7.      (adegan)kehidupan.






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Cintanya Cinta...


Pagi masih berkabut. Hampir semua orang yang disentuhnya menggigil menarik selimut kembali untuk dieratkan. Mengkerat. Dan berusaha menghangatkan diri. Tidak dengan rumah itu. Samar-samar sinar lampu minyak yang digantungkan diatas salah satu tiang penyangga. yang kemudian menerangi seluruhnya. Meskipun tak seperti listrik. Yang lima watt saja tidak sampai seterang itu. Namun apa yang mereka tengah lakukan mampu melebihi terangnya lampu neon yang berjuta harganya.
Jam empat subuh. Seusai shalat jama’ah tadi. Emak dan Hasan bersegera membuat Gula Aren. Karena ini adalah hari jum’at. Emak tidak mau ke hutan. Bukan karena hari keramat. Namun karena hari ini adalah hari penuh keberkahan. Emak tak ingin melewatkannya dengan sia-sia. Emak biasanya hanya melakukan aktivitas yang tak sesibuk seperti biasanya. Ia lebih memilih untuk duduk dengan khusuk diatas sejadah yang lusuh diatas amben yang selalu berderit keras ketika Emak bergerak. Namun semua itu tak mengganggu kekhusuan Emak untuk melakukan ibadahnya.
“Mak tak bosan duduk disana berjam-jam?”. Hasan yang beru berumur 8 tahun bertanya dengan penuh perhatian.
Emak memandangnya lembut. Jemarinya mengusap anak rambut yang bertengger di dahi Hasan,
“Hasan kalau sudah besar pengen  ziarah ke makam Rosulullah bukan? Hasan mengangguk dengan cepat. Matanya mengerjap dengan awas. Berbinar meningkahi tatapan Emaknya yang menatapnya lembut.
“Pahala shalat dan baca Qur’an sampai waktu shalat duha itu, sama dengan naik Haji.” Emak berujar lembut.
“Wah....hasan mau Mak..” ia berkata dengan penuh kesungguhan.
“Bisa, Hasan pasti bisa.” Emak tersenyum indaaah sekali. Meskipun terlihat sangat tua . Karena Emak terbiasa dengan beban yang dihadapinya. Gurat usianya tak setuju dengan apa yang Emak rasakan semasa hidupnya.
 Hasan dulu memiliki kakak yang berbeda tiga tahun diatasnya. Namun karena sakit malari Maryam meninggal dalam keadaan sakit. Dan sayangnya Emak dan bapak waktu itu tidak memiliki uang cukup untuk membeli parasatamol sekalipun. Maka Maryam pun meninggal dalam pangkuan Emak yang menangis histeris melihat anak pertamanya menghembuskan nafas terakhir dengan keadaaan yang memilukan. Seminggu lamanya. Emak tercenung. Diatas tugu itu. Ia telah memvonis dirinya sebagai seorang ibu yang tak berguna. Yang tak mampu memberikan obat saat anaknya kesakitan. Tak mampu memberikan hal yang terbaik semasa anaknya masih hidup. Dan bapak tentu tak henti-hentinya mengingatkan Emak untuk tetap bersyukur. Ah bapak, tegarmu memang tak terbendung luasnya.
Meskipun bapak dengan susah payah menggadaikan kapak yang selama ini menjadi alat untuk mencari nafkahnya itu. Namun kepala desa menganggap kapak itu terlalu tua untuk dipakai bahkan untuk disimpan sekalipun. Dan Maryam pun meninggal dengan senyum. Karena bahagia, Emak dan bapaknya dengan tegar  mengikhlaskannya untuk pergi lebih dulu.
Hasan mengikuti kebiasaan Emaknya dengan semangat. Ia meniru apa yang telah selama ini Emaknya lakukan. Sebelum shalat subuh. Ia persiapkan buku-buku dan PR  yang akan ia kerjakan. Ia merapikannya diatas sajadah kecilnya. Diujung sebelah kanannya. Ia simpan dengan rapih. Buku kumal yang sudah berkali-kali kehujanan. Namun ia mengangap buku kumal itu amat berharga. Karena ia dapat belajar, dan mengerjakan PR dengan buku itu. Ia pun dengan sigap menyimpan juz amma. Yang berhasil ia beli dari tabungannya selama tiga bulan terakhir. Setelah ia dan teman-temannya ikut mencari kayu bakar di hutan. Dan dijual di pasar yang tidak jauh dari kampung. Lumayan untuk jajan dan menabung sedikit demi sedikit. Hasan sudah terbiasa tidak jajan di sekolah. Ia lebih memilih menyimpannya dikaleng yang ia jadikan celengan. Setelah sebalumnya ia mengisi perutnya dengan penganan yang Emak buat di rumah. Meskipun hanya sepotong ubi rebus yang dibaluri parutan kelapa dan ditaburi garam yang menggiurkan. Ditemangi secangkir teh hangat yang mengepul dengan indah.
“Sudah siap semuanya?”. Emak membuyarkan lamunan Hasan.
“Sudah.” Hasan dengan sigap berdiri untuk pergi ke surau yang cukup jauh dari rumahnya. Ia tak pernah mengeluh dingin atau pura-pura sakit untuk tak pergi ke surau.
Ia selalu ingat akan pesan Ayahnya sebelum meninggal.
“Rosulullah tak pernah meninggalkan shalat berjama’ah di masjid. Hanya sekali seumur hidupnya itupun ketika beliau sakit sebelum meninggal.”
“Bapakmu akan bangga padamu nak, jika shalatmu, baca qur’an mu, belajarmu, dan baktimu pada Emak kau lakukan.” Itulah kata-kata Emak yang selalu menyemangatinya.
Dan langkahnya pun semakin cepat. Sambil mengerahkan tenaganya utuk menahan gemeretuk gigi yang tak mampu dibendung. Menyambut subuh yang penuh berkah.
***
Anak kecil dengan penuh semangat dan memiliki keingintahuan yang tinggi itu bertanya pada Emaknya.
“Mak, Tuhan tidak pernah  tidur kan?”  ucapnya. Sembari membantu  Emaknya menuangkan gula aren pada cetakan. Seketika Emak menghentikan aktivitasnya. Ia memandang anaknya yang lugu.  memandangnya dengan keingintahuan dan  harapan yang besar.
“Kalau Hasan kan susah tidur mak. “ ujarnya. Memecah kesunyian. Ia kembali sibuk menuangkan adonan gula yang sempat terhenti beberapa saat.
Emak hanya memandangnya dengan lembut. mencari binar-binar cinta dimata anak semata wayangnya.
“Hasan suka susah tidur mak. Sebenarnya...
Hasan suka masih lapar kalau mau tidur.”
Ucapnya polos. Ia tak sadar. Bahwa apa yang dikatakannya barusan seperti halilintar disiang bolong yang menyambar gendang telinga Emak.
“Seharian Hasan membantu Emak membuat gula, menjemur, dan menjualnya dipasar. Hasan juga ikut mencari kayu bakar di hutan dengan teman-teman untuk tambahan jajan. Tapi masih saja belum cukup. ...”
Emak masih saja diam...
“Sepatu hasan kemarin robek.” Ucapnya. Lirih. Ia tak berani menatap Emaknya yang dengan sabar menunggu pandangan anak terbaiknya.
Ia tak berani menatap Emaknya yang baik itu. ia tahu, saat yang paling nyaman untuk saling mencurahkan apa yang tengah dirasakan adalah saat ini. Saat dimana Emak ada dirumah dan mencetak gula aren. Setelah seharian Emak ke hutan. Mencari air Aren yang perlu dengan sudah payah mencapainya. Dan karena itu pulan pak Rofi, ayah Hasan, meninggal dunia saat kemalaman keluar dari hutan. Hingga ada segerombolan perampok yang mengambil seluruh barang-barang yang pak Rofi dapat dengan susah payah. Lantas pak Rofi pun tak sudi memberikannya pada perampok itu. perkelahianpun terjadi. Lima lawan satu. Bapak kewalahan dan akhirnya dibiarkan begitu saja dengan sekujur tubuh penuh luka. Hingga keesokan harinya, ada salah satu  tetangga yang tergopoh-gopoh sambil menanggis mengagetkan rumah kecil itu.
Emak merapihkan semua peralatan dan menghentikan menuangkan gula.
“Kan belum selesai Mak?” Hasan merasa bersalah pada Emak. Takut-takut ia menatap wajah orang yang dikasihinya itu.
Tak ada yang berubah. Wajah itu. tetap  tegas dan menentramkan..
Setelah semuanya rapih. Emak mengajak hasan keluar rumah. Sebenarnya. Tak pantas gubuk itu disebut rumah. Karena disana sini banyak yang bolong. Dan Emak berusaha menutupinya dengan membiarkan dedaunan yang hidup disekitarnya. Dengan hanya terdapat dua kamar. Yang dipisah oleh balutan kayu dan dapur sederhana. Beralaskan tanah
Didepan rumah ada sejenis tunggul bekal pohon bersar yang digergaji. Emak menyiasatinya menjadi tempat duduk.
“Sini, duduk Nak. Emak tersenyum sambil menepuk tunggul yang dibersihkannya perlahan.
Hasan takut-takut mendekati Emaknya yang bersikap tak seperti biasa.
“Emak marah sama Hasan?” Hasan mencoba memecah kesunyian.
Sudah lima menit berlalu. Sedari tadi hanya hening yang menyapa.
Emak menatap hasan. Lembut.
“Tentu tidak sayang...”  Emak mengusap rambut Hasan dengan penuh kasih sayang.
“Emak malu ya punya anak kaya Hasan?” Hasan berkata deng ujung matanya yang basah.
“Malu kenapa? Emak justru bangga padamu nak.” Emak menatap sendu wajah putranya.
“Emak bangga punya anak seperti Hasan. ...ujarnya. nanar. Luka itu masih ada. Selalu. Ketika ia duduk diatas tunggul yang membisu.
Mengingatkannya akan luka tu. Luka tak mampu memberikan yang terbaik untk anak yang dicintainya.
Ah Emak,...sabarmu mampu menggurkan dosamu.
“Hasan mau jadi dokter Mak. Biar kalau Emak sakit. Hasan bisa obatin Emak. Biar ga kayak teh Maryam. “ Hasan berkata sambil menerawang
Emak mengangguk kuat-kuat dengan tangis yang tak mampu dibendungnya
“Hasan sekarang udah besar. Hasan harus lebih pintar dari Emak dan abah. Biar bisa manfaat buat orang lain.” Emak berkata sambil terisak.
Hasan hanya mendengarkan dengan diam
Jauh dari dasar hatinya ia ingin berteriak. Ingin menenangkan Emak. Namun diujung lidah semuanya tertahan
“Mulai sekarang. Hasan mau lebih giat lagi belajar Mak. Gak akan ngeluh lagi mak. Hasan janji...” Hasan tersedu. Bahunya berguncang dengan pilu.
“Hasan juga bakalan hafalin qur’an mak. Walaupun Hasan baru hafal juzamma. Hasan pengen nanti beli qur’an sendiri. Biar bisa ngafal dimana aja . biar ga ganggu emak baca qur’an.” Emak kuat-kuat memeluk anak satu-satunya itu.
“Ammmiiin....”
kelu. Hanya hati-hati mereka bertaut. Do’a- do’a menyeruak dari rerumputan, makhluk bumi dan langit berhamburan mengamini dengan khusuk. Seorang anak yatim yang dengan sabar mensyukuri nikmat yang dimilikinya...disaksikan tugu yang tak lagi sendu.




#Teruntuk ummi dan bapak, yang tak pernah lelah memberi kasih sayang dan cinta yang tak pernah padam untuk belajar mencintai-Nya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

saung Angin...^^

Baiklah, aku akan mulai memahat kembali otakku yang sempat kelu karena sudah beberapa lama tak menjamah rangkaian kata pada lembaran kertas putih  dengan kursor yang berdenyut-denyut menunggu ideku dengan sabar.haha
Bermula saat aku yang sangat menggilai novel Muhammad Sang Penggenggam Hujan. gila pada Astu dan Kahsva. Pada penggambaran suasana sejarahnya yang dapat kuarasakan sempurna. terlebih kekaguman dan rasa cintaku pada Rosulullah yang semakin tak terkira. Membacanya membutuhkan waktu memang. dahiku sesekali berkerut. menyertai mataku yang belum berhenti mengitari huruf yang terletak rapi pada novelnya mas Tasaro GK.
Aku  bahkan menulis kembali kata atau kalimat yang menurutku menjadi kekhasan penulis. sehingga aku dapat mengenali tipe penulis pada penulis novel yang aku baca.
Berawal dari teman sekostan yang mengajakku ikut. langsung saja aku menyambutnya dengan senyum. Meskipun pada hari yang sama ada dua agenda yang harus kutinggalkan. Seminar grafologi dan tugas organisasiku. yang memang setiap sabtu ahad berlangsung. tapi aku mencoba berfikir. untuk bertanggungjawab dengan pilihanku sendiri.
grafologi aku telah menyiasati untuk membeli bukunya dan belajar sendiri. Begitu pula tugas organisasiku yang sudah aku amanahkan pada temanku yang lain. karena sabtu ahad selalu disana maka untuk saat ini aku putuskan untuk meninggalkannya barang sejenak. untuk merefresh kembali semangat menulisku. Meskipun sebelum berangkat ada saja ujiannya. hanya aku dan temanku yang tau.haha
Hampir tidak jadi karena aku tak tega meninggalkankanya. Namun kembali pada perkataanku bahwa.
Aku harus bertanggungjawab pada apa yang aku lakukan”...mulai saat itu aku melangkah dengan senyum.
“Semoga ini adalah jalan agar aku lebih bisa bertanggungjawab dengan keputusanku sendiri.” gumamku. Dan...tak menyangka pula aku bertemu dengan teman organisasi yang berada di purwakarta. triiing. ingatanku kembali menerawang. pada tugasku itu. hihi
hingga suatu ketika. kami disambut dengan kata yang mampu membuat semangatku mengkerut. sebentar kemudian tersenyum. Hal yang membuatku terpana adalah kalimat yang dilontarkan ketika kami berkumpul di lapangan dekat saung angin.
Saung angin ini sebenarnya adalah sebuah uangkapan. bahwa seorang penulis itu sebelum mencapai puncak keberhasilan maka harus mendaki alias berusaha. ketika sampai pada keberhasilan. maka tunggulah angin yang akan datang menyambut. ini berarti bahwa setiap fase dalam menulis itu ada ujiannya. ada racikan kesabaran, ikhtiar optimal, dan tawakkal didalamnya . jadi...menjadi penulis itu tak mudah, juga tak sulit.  dengan tak lupa menseting niat agar proses, dan tujuan menulis kita diperuntukan untuk kemashlahatan ummat. untuk generasi yang lebih baik. menciptakan peradaban yang cinta ilmu dan sholih.”kurang lebih seperti itu.
sebenarnya aku adalah tipikel orang yang tidak terlalu menggebu untuk mengukai figur. ex artis, penulis. dsb. hanya keinginan yang lumayan cukup besar untuk bertemu dan mengambil ilmunya membuat semangatku meluap. sma aj.hihi..
Ah engga juga.heee...
Sampai suatu ketika...
Aku memang menyukai Rosulullah. Sudah banyak Sirah Nabawiah aku lahap. Bagaimana keluarganya, sahabatnya dan sifatnya karena aku sangat menyukai sejarah. terutama sejarah islam. Misalkan saja buku khusus membahas tentang khadijah, aisyah, dan. 99 cahaya islam di eropa karya Hanum Salsabila Raies. Namun yang amat mengena dihatiku adalah bagaimana penggambaran rosulullah yang ada dalam novel muhammad penggenggam hujan dan pengeja hujan. aku menangis sejadi jadinya. merasakan rindu yang amat sangat. aku sangat berharap bertemu dengannya. membersamainya bersama golongan 70 ribu manusia yang pertama kali masuk syurga bersama Rosulullah. Menyelami telaganya, dan bertetangga dengannya kelak dijannah-Nya...aamiin.
itu yang aku rasa setelah membacanya. aku juga sedikit  tertarik pada Ahmad Rofi Usmani yang membantu pembuatan novel itu. pernah juga membaca buku beliau. sangat bagus. dan beliau ahli dibidang sejarah islam. saaangat suka. semoga suatu saat nanti bisa sharing bersama keduanya. Tasaro GK. dan Ahmad Rofi Usmani.ngarep.hehe
Ketika aku mendengar istilah TARAJE. jujur saja aku belum faham dengan apa yang tengah dibicarakan karena aku belum masuk pada komunitasnya.haha
tapi, aku rasa  ini amat menarik. aku dapat mengetahui bagaiamana nikmatnya menulis dari mas Tasaro.
hmm...menurutku...
menulis adalah suatu tanggungjawab. lho? aku mengartikannya sendiri pemirsah.haha
menurutku, menulis tidak hanya sekedar aktualisasi diri sebagai salah satu wujud penyaluran bakat atau hobi. namun. lebih dari semua itu, menulis sdalah belajar bagaimana kita dapat bertanggung jawab untuk memberikan kontribusi terbaik untuk orang lain. didalamnya ada kata “istiqomah alias konsistensi penulis yang rela menyempatkan meskipun beberapa menit dalam sehari untuk menulis. rela mengembangkan kelima alat indranya untuk dapat merasakan bagaimana indahnya hidup dari yang Maha hidup. juga bagaimana mengembangkan nalar dengan berbagai realita yang ada.
yup. itulah menulis. tentu setelah lumayan rada merenung setelah mendapat materi 5 I + one nya Tasaro GK. hehe
Aku memang orang yang sangat senang membaca. terutama novel.hehe
tapi satu hal yang aku lakukan sebelum membaca buku adalah membaca biografi penulis.
baru setelah itu aku mau membaca. kenapa? karena dengan membaca biografi aku akan sedikit tahu. apa sebenarnya tujuan penulis hehe...so tau...haha
kebiasaan anak jurusan BK kan kepo yang bahasa ilmiahnya  analisis perilaku.hehe
ketika melihat mas Tasaro aktivitasnya menulis, menanam dikebun dan tinggal di tempat yang amat nyaman untuk “merenung” hehe.
aku pikir. ini unik. sangat unik.
bagaimana tidak, biasanya seorang penulis adalah orang yang menurut saya...hidup dengan dunianya itu.
jujur saja ini saya katakan karena sebelumnya saya belum pernah bertemu dengan beliau.
nah, ketika pertama kali mendengar bagaimana beliau berbicara.
emmmm....
aku sedikit bisa menilai.haha.lagi-lagi..
bahwa aku belum mendapatkan itu....mendapatkan rasa tanggungjawab dengan pilihanku sendiri. bersikap  asertif pada setiap keadaan. dan menikmati hidup dengan caraku sendiri. memaknai makna Illahiah dengan memberikan kontribusi pada ummat dengan caraku sendiri.
selama ini tren konformitas ternyata sedikitnya membuatku bingung dengan identitasku sendiri.
nah, sudah dapat dilihat kan...bagaimana perjalanan ku dipertemukan dengan mas Tasaro, teman-teman penulis seperti kak Atih dan Antitesanya. juga teman-teman penulis hebat lainnya yang dengan hebatnya menjadi gelas kosong saat mendengarkan  materi saat itu.
any way...
Aku mendapatkan banyak “hikmah” hari itu. Aku kembali merasakan bagaimana seharusnya menjadi seorang penulis. aku jadi tahu bagaimana jurus menulis yang sangat jitu. namun lebih dari semua itu. aku bisa menikmati bagaimana nikmatnya menulis yang sesungguhnya. bagaimana menjadi penulis yang tidak hanya sekedar menulis. namun menjadi penulis yang siap menjadi sarana perbaikan gerenasi yang lebih baik..^^
bagaimana tidak. belajar dari seorang penulis hebat langsung, belajar dialam. diatas bukit beratapkan saung kecil yang dari saung angin ini dapat melihat indahnya bandung dan sumedang. hmmm..amazing..^^
bagaimana denganmu???
masih menunggu? atau beru akan memulai saat ini?tak apa kawan... tak ada kata terlambat untuk perbaikan. ada pepatah mengatakan bahwa “balas dendam yang diperbolehkan adalah balas dendam untuk menjadi yang terbaik mengalahkan orang lain dalam kebaikan”.
pernah dengar istilah bahwa kesungguhan dan kegigihan yang amat sangat itu lebih baik dari pada mengandalkan sekarung bakat yang tertidur.so..tunggu apalagi?
Menulislah..... tebarkan kasih sayang dan kebaikan dibumi dengan caramu sendiri. Agar namamu, juga namaku menjadi salah satu nominasi aktris dan aktor terbaik di akhirat kelak.. menggema dalam keabadian....
yakin pada Allah, dan percaya diri menciptakan keajaiban diatas Dunia. ^^

@yèô_$#ur Ík< tb$|¡Ï9 5-ôϹ Îû tûï̍ÅzFy$# ÇÑÍÈ  
84. dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) Kemudian,(Asyu’ara :84)

ayooo, gabung di komunitas TARAJE dan bermetamorfosislah menjadi makhluk yang memberikan “keindahan” pada orang –orang disekitarmu.^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Copyright 2009 Pelangi Rizqi
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates