Epilog Syukur



Apakah kau merasa, akhir-akhir ini mentari begitu getas saat tengah menatap kita?
Apakah kau merasa bulan sudah sangat langka menyapu malam dengan sunggingan senyum? Kecuali ditanggal 14,15 dalam hitungan hijriah pada tengah bulannya..
Itupun jika ia mau..
biasanya hanya kudapati usapan halusnya dalam balutan awan yang membentang.
Biasanya bapak selalu mengajak kita duduk bersama diluar rumah. Menikmati tatapan bulan. Menyapa angin malam.
Apakah kau merasa jika ucapan kita begitu “kering” saat mengeja syukur?
Aku bahkan tak merasakan qanaah bersemayam dengan nyaman dalam hatiku saat ini.
Alhamdulillah ‘ala kulli haal...
Engkau telah lengkap membersamai hatiku, hatimu dengan dua hal. Yah dua hal
Syukur dan sabar.
Kau titipkan rasa itu setelah kau hujamkan duka, sesak, dan sapaan dari rasa putus asa. Hingga lengkingan tawa syaithan membahana. Memekakkan telinga.sangat terasa.
Membersamai dalam setiap detik, kiri, kanan, atas bawah, depan belakang.
“Alhamdulillah tatimmu bini’matihi tatimmushaalihat.”
Alhamdulillah dengan segala nikmat-Mu,  dengan kebaikan yang Engkau sempurnakan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

STAIRWAY TO HEAVEN






Sudah bintang keberapa pekan ini?
Ah sangat senang kembali dengan setoran harian yang sangat luar biasa. Seperti menjejak memori ingatan dulu sejak MTs dan Aliyah. Saat seorang guru menyemangati  dengan memberikan sanksi pada muridnya yang belum atau tidak menghafal hari itu.
saat sore, malam dan ba’da subuh. Kami menyebutnya pengajian pondok. Rutinitas yang sebenarnya sangat melelahkan pasca pulang sekolah namun justru dengan begitu jatah tidur terkurangi serta PR yang bejibun tak menyurutkan semangat karena sangat senang dapat bercengkrama dengan teman-teman. Belum lagi jalan-jalan sore yang seringkali dilakukan saat setelah mengaji atau bahkan sawah menjadi tempat favorit kami untuk menuntut ilmu.
Belum lagi ujian lisan yang seringkali sampai larut malam.
Atau bahkan Sampai matahari meninggi. Atau latihan untuk lomba dengan ritme waktu yang sangat menggila. Dispen untuk pengajian pondok dan diisi dengan full latihan. Meskipun memang melelahkan karna salah satu ust sangat sangat tegas dan disiplin. Dimarahi saat kurang optimal. Namun sangat membekas hingga kini.
Kini seolah aku tengah merasakan kembali saat saat seperti itu. Pergi setiap sore untuk mentasmi’. Meski tidak seperti jadwal pengajian pondok dulu.
Kini saya menyesal karna dulu setiap kamis pagi saat bapak menyuruh ke mesjid untuk pelajaran tafsir jalalain. Saya seringkali bermalas malasan karna memang tidak dihitung kelas meskipun para santri wajib shalat dan belajar setelahnya. Dengan mata yang sangat kantuk. Karna malam kamis biasanya diisi dengan muhadhoroh. Latihan pidato tiga bahasa.
Saya menyesal saat selasa dan sabtu  ba’da subuh biasanya masih dengan malas sering tak ikut kembali karna jadwal muhadatsah dan coversation. Tidak dihitung absen juga.tapi wajib bagi para santri.heu
Meskipun begitu, saya seringkali ditanyai saat pergi liqo bertepatan dengan muhadoroh. Tempatnya juga berhadapan. Huft.rumah dan Madrasah yang saling menatap.
Tapi setidaknya mengobati kerinduan ini. Juga menjadi jalan yang Allah karuniakan dengan sangat-sangat luar biasa.
Welcome....

Dan Allah memeluk mimpiku dengan sangat-sangat luar biasa...
Jalan menuju syurga-Nya terbentang dengan indahnya. Membelah nalar manusia juga taqdir yang sekajap mata dapat KAU ubah dan atur sedemikian rupa.

Sampaikanlah aku pada bintang ke 30 duhai Allah...agar aku dapat menjadi keluargaMu di dunia dan akhirat.:’)



Bandung, 9 feb 2014
dengan kesungguhan yang sangat menuju gerbang...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Jenis Manakah?





Jenis manakah yang kau pilih? Hitam putih?tinggi?pendek?
Sholih?tidak sholih?alay? tidak alay?
Jenis?ah aku bahkan menyebutkan mahluk tak bernama. Sudahkubilang, aku hanya selalu melantunkan do’a dengan khidmat sesaat setelah azan, saat sujud dan setiap do’a yang kulantunkan.
Entah, karunia seperti apa insan  yang akan Allah berikan pada orang jenis saya.
Mungkin inilah yang menjadi alasan ummi dan bapak belum begitu tenang melepas saya untuk menikah. Huaaaaah.
Iya sih. Suka ngambek gajelas. Bahkan seperti anak bungsu jika dirumah. Meskipun sudah sangat terampil pekerjaan rumah dan tek tek bengek yang secara ilmu dan teknis telah saya kuasai. Namun tetap saja yang menjadi unjung tombak dari semua ini adalah “hati”
Ya Mujiiib, meski saya termasuk memiliki kesabaran yang cukup diatas rata-rata >kata orang lain.
Tapi saya juga harus nyadar diri karna tak selamanya sabar menjadi obar mujarab saat ego lebih diutamakan. Mengalah. Saya harus dapat lebih mengalah. Itu salah satu kuncinya Rabb,
Karuniakan insan yang rela menahan kantuk saat saya butuh teman mendengarkan saya “bercerita” yah hanya mendengarkan. Tak perlu direspon pun tak apa. karna perasaan saya akan sedikit plong saat saya menceritakan apa yang tengah berkecamuk dalam benak saya.kadang-kadang. Jika tak “dibuang” akan sangat tiidak nyaman. Padahal mungkin hal sepele. karuniakan insan yang meluangkan waktu untuk memberikan saran, motivasi dan “jalan” saat saya tengah buntu mencari solusi, serta menguatkan saat tengah terhimpit pilihan yang memusingkan.
Karuniakan insan yang dengan segala kekurangan saya ia menerima siapa saya. Bukan saya siapa.sama aj y? Yah pokoknya seperti itulah.
Dan sepanjang percobaan yang saya lalukan, mengalah dan bersabar akan melanggengkan segala hubungan. Persahabatan, keluarga, bahkan tetangga atau apapun. Dan mungkin jugaaaa, pernikahan.huft.
Tentunya dengan tidak menzalimi diri sendiri
Oia satu lagi, mengerti tanpa harus berbicara itu adalah PR tersulit yang menurut saya butuh waktu cukup lama untuk dapat berlaku seperti itu. Namun bukankah Allah maha pemberi “pelengkap”?
Bukankah ketika kita sudah dipasangkan itu adalah pasangan terbaik yang Allah karuniakan. TITIK. Tidak boleh melihat depan belakang, kiri kanan atas bawah. Dia adalah yang terbaik untukmu. Oh iya orang ramai-ramai menyebutnya SETIA.
Setia berkaitan sangat erat dengan waktu. Aku bahkan ingin menyukainya lebih dari waktu yang Dia berikan padaku di dunia ini.
Aku bahkan terlalu cuek dengan hal yang berbau sensitif ini. Semoga kelak pun saat insan itu sudah menjadi pelengkapku. Usai sudah kukunci hatiku. Kugembok dan ku buang kuncinya pada qodarNya.haha alay
Seiring berjalannya waktu, aku yakin ada hal yang paling paling baik yang akan KAU karuniakan padaku ya Rabb...#didepan kaca...dan apa yang saya harapkan adalah apa yang harus saya lakukan. Self evaluation...
Allahumma ajiib du’aana aamiin.

Mario Teguh: "Wanita tidak suka menjelaskan apa yang diinginkannya. Tapi, mengharuskan lelaki mengerti." | Jika tak disikapi dengan bijak, mungkin hal itulah yang dapat mengundang "ombak" saat mengaruhi bahtera pernikahan | Solusinya, komunikasi yang baik bersama pasangan | Generasi ini membutuhkan keluarga yang kokoh, ayah bunda yang saling mengasihi bukan saling membenci | *BaitiJannati*

Bandung, 7 feb 2013.
Dengan kembali melihat harapan yang harus tercapai.:D












  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

My Dearest Hunny






Saya sering menyebutnya nanil, yang, dan nayang, sebutan sayang untuk adik keduaku.Fani Fauziah.
Diantara kami berlima dia memang terlihat paling cantik. Paling sering tersenyum dan ramah. Juga pada lawan jenis. Berbeda dengan kami yang sering jutek dan galak.
Dia adalah bidadari kecil yang sebetulnya sangat perhatian. Meski seringkali sensitif saat ditegur, ngambek dan gampang ngunci kamar kalau sedang jutek. Namun selebihnya dia adalah adik yang sangat cantik, pintar, perhatian, dan tentunya shalihah inshaa Allah. Dia paling pintar eksak dibanding kami berlima.


 Dan tebak siapa yang ingat ketika kami bertujuh ulangtahun. Pasti dengan segera ia menelfon atau meng esemes apa yang akam kami berikan dan tak jarang bahkan uang tabungannya ia belikan kue tart besar yang ia beli dari ibu temannya.dan seringkali sesuai dengan warna bahkan rasa kesukaan kami.
Dulu, bahkan pun sampai sekarang kami tetaplah dekat. Namun tetap saja sedekat-dekatnya saya takkan dapat menjangkau hatinya paling dalam. Meskipun saya sering menjadi tempat curhat, meskipun saya selalu menjadi tempat pelindung saat ummi dan bapak menegurnya karna sering pulang sore dan menginap karna organisasi disekolah ataupun bimbel. Semacam ketidakpercayaan ummi dan bapak pada nayangku satu ini. Meskipun begitu, ummi dan bapak bukanlah marah. Aku tau. Mereka hanya bertanya dan menegaskan bahwa sebenarnya mereka sangat menyayanginya.
Ummi seringkali meminta saya untuk mengingatkan nanil untuk tetap liqa dan mengurangi aktivitas organisasinya.
“bukan apa-apa ummi mah, pulang sore, magrib uda tidur karna cape. Jarang ngobrol dengan adik-adik dan belajarpun sulit karna nanti terbangun sangat larut.ummi pengen ani uda ada d rumah duhur. Makan bareng. Kumpul-kumpul fokus belajar buat UAN” sergahnya. Aku hanya mendengarkan dengan khidmat apa yang ummi bicarakan diujung telfon sana.
Disisi lain sangat sayang dan sangat mengerti bagaimana organisasi yang memang sering menyita waktu. Disisi lain, kehawatiran ummi dan bapak memang benar.


Dan tahun ini kau akan menginjak bangku universitas nay...
Teteh yakin insyaAllah Allah akan memberikan karunia terbaik untukmu...
Seringkali kau menangis mengadu setelah ummi dan bapak “memaksa” untuk masuk pada jurusan yang tidak kau inginkan seiring kau menyampaikan apa yang kau harapkan.
“ummi dan bapak pengen ani ke kebidanan teh.ani pengen jurusan bahasa mandarin.”ujarnya dengan terbata.
Saya menarik nafas panjang. Ingin tertawa kesal dan sayang dicampur bersamaan.
Maka dengan serta merta sayapun menjelaskan apa yang ani inginkan, harapan bapak dan ummi juga karir kedepannya. Hingga timbullah kesefahaman. Kamu seringkali terlalu cepat marah nay. Teteh yakin itu semua karna rasa peka yang kamu miliki belum kamu asah dengan baik.
Jauh dilubuk hati teteh...
Ingin sekali ani dapat jrusan Pendidikan khusus di UPI...teteh jebloskan kamu pada pesantren tahfidz Dt....
Apapun insyaAllah yang terbaik. Bapak dan ummi sudah mengultimatum untuk memberikan “perhatiannya” pada kuliahmu kelak. Hal itu memang sangat wajar. Teteh sudah selesai. Dan teteh juga harus tau bahwa apapun keputusanNya nanti insyaAllah yang terbaik.
Terdengat suara lembut dari bapak tadi malam sesaat sebelum bapak makan.
“setelah ini mau apa?”
“apapun persiapkan dengan matang. Bapak sekarang terfokus pada devivi dan ani ujarnya.
Saya tak pernah menyinggung masalah pernikahan pada bapak.pun pada ummi. Entahlah semacam malu yang tak bisa saya bendung bahkan hanya sekedar untuk memulainya.
Yah saya tau. Saya sadar bahwa dapat ataupun tidak dapat beasiswa nanti. insyaAllah itulah yang terbaik.
Apapun jika memang itu yang terbaik untukmu nay insyaAllah akan selalu teteh lakukan.:-)
Salam sayang selalu, kelak suatu hari nanti ingin sekali melihatmu, juga devivi, ayu dan ifa mengenakan jubah kebanggaaan bernama keridhaan Allah dan kita semua sama-sama memberikan mahkota cahaya pada ummmi, juga bapak.:’)
Semoga Allah selalu menjagamu ya nay.Love u more and more hunny,:D


Bandung, 8 Feb 2013
dengan kecintaan yang sangadh padamu hunny.:D
 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Copyright 2009 Pelangi Rizqi
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates